Video Tutorial

Loading...

Rabu, 07 Desember 2011

Sturuktur Filsafat & Filsafat Ilmu

I.  Model Inkuiri
Berdasarkan pendapat di atas kita memperoleh gambaran bahwa filsafat ilmu merupakan telaah kefilsafatan yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu, yang ditinjau dari segi ontologis, epistemelogis maupun aksiologisnya. Dengan kata lain filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengakaji hakikat ilmu.
A.    Pertanyaan yang diajukan seperti :
1.    Obyek apa yang ditelaah ilmu ? Bagaimana ujud yang hakiki dari obyek tersebut? Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia yang membuahkan pengetahuan ? (Landasan ontologis)
2.  Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar mendakan pengetahuan yang benar? Apakah kriterianya? Apa yang disebut kebenaran itu? Adakah kriterianya? Cara/teknik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu? (Landasan epistemologis)
3.    Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral ? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/profesional ? (Landasan aksiologis).
Sedangkan di dalam introduction-nya  Stathis Psillos and martin Curd  menjelaskan bahwa filsafat ilmu secara umum menjawab pertanyaan – pertanyaan yang meliputi :
4.    apa tujuan dari ilmu  dan apa itu metode ? jelasnya apakah ilmu itu bagaimana membedakan ilmu dengan yang bukan ilmu (non science) dan juga pseudoscience?
5.    bagaimana teori ilmiah dan hubungannya dengan dunia secara luas ? bagaimana konsep teoritik itu dapat lebih bermakna dan bermanfaat kemudian dapat dihubungkan dengan penelitian dan observasi ilmiah?
6.    apa saja yang membangun struktur teori dan konsep-konsep seperti misalnya  causation(sebab-akibat dan illat), eksplanasi (penjelasan), konfirmasi, teori, eksperimen, model, reduksi dan sejumlah probabilitas-probalitasnya?.
7.    apa saja aturan – aturan dalam pengembangan ilmu? Apa fungsi eksperimen ? apakah ada kegunaan dan memiliki nilai  (yang mencakup kegunaan epistemic atau pragmatis) dalam kebijakan  dan bagaimana semua itu dihubungkan dengan kehidupan social, budaya dan factor-faktor gender?
Dari paparan ini dipertegas bahwa filsafat ilmu itu memiliki struktur pembahasan yang meliputi: pembahasan landasan ontologis ilmu, pembahasan mengenai landasan epistemologi ilmu, dan pembahasan mengenai landasan aksiologis dari sebuah ilmu.


B.    Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian ilmiah. Sebenarnya jumlah metode penelitian ilmiah filsafat hampir sama banyaknya dengan defenisi dari para ahli dan filsuf sendiri karena metode ini adalah suatu alat pendekatan untuk mencapai hakikat sesuai dengan corak pandangan filsuf itu sendiri. Penjelasan secara singkat metode-metode filsafat yang khas adalah sebagai berikut:
1.    Metode Kritis : Socrates dan plato
Metode ini bersifat analisis istilah dan pendapat atau aturan-aturan yang di kemukakan orang. Merupakan hermeneutika, yangmenjelaskan keyakinan dan memperlihatkan pertentangan. Dengan jalan bertanya (berdialog), membedakan, membersihkan, menyisihkan dan menolak yang akhirnya di temukan hakikat.
2.    Metode Intuitif : Plotinus dan bergson
Dengan jalan metode intropeksi intuitif dan dengan pemakaian simbol-simbol di usahakan membersihkan intelektual (bersama dengan pencucian moral), sehingga tercapai suatu penerangan pemikiran. Sedangkan bergson dengan jalan pembauran antara kesadaran dan proses perubahan, tercapai pemahaman langsung mengenai kenyataan.
3.    Metode Skolastik : aristoteles, thomas aquinas, filsafat abad pertengahan.
Metode ini bersifat sintetis-deduktif dengan bertitik tolak dari defenisi-defenisi atau prindip-prinsip yang jelas dengan sendirinya di tarik kesimpulan-kesimpulan.
4.    Metode Geometris : rene descartes dan pengikutnya
Melalui analisis mengenai hal-hal kompleks di capai intiuisi akan hakikat-hakikat sederhana (ide terang dan berbeda dari yang lain), dari hakikat-hakikat itu di dedukasikan secara matematis segala pengertian lainnya.
5.    Metode Empiris :Hobbes, Locke, Berkeley, David Hume
Hanya pengalamanlah menyajikan pengertian benar, maka semua pengertian (ide-ide ) dalam intropeksi di bandingkan dengan cerapan-cerapan (impresi) dan kemudian di susun bersama secara geometris.
6.    Metode Transendental : Immanuel Kant dan Neo skolastik
Metode ini bertitik tolak dari tepatnya pengertian tertentu dengan jalan analisis di selidiki syarat-syarat apriori  bagi pengertian demikian.
7.    Metode fenomenologis : Husserl, Eksistensialisme
Yakni dengan jalan beberapa pemotongan sistematis (reduction), refleksi atau fenomin dalam kesadaran mencapai penglihatan hakikat-hakikat murni. Fenomelogi adalah suatu aliran yang membicarakan tentang segala sesuatu yang menampakkan diri, atau yang membicarakan gejala.  Hakikat segala sesuatu adalah reduksi atau penyaringan dan menurut Husserl ada tiga macam reduksi yaitu:
a.    reduksi fenomologis, kita harus menyaring pengalaman-pengalaman kita agar mendapat fenomena semurni-murninya.
b.    Reduksi eidetis.
c.    Reduksi transendental
8.    Metode Dialektis : Hegel dan Mark
Dengan jalan mengikuti dinamik pikiran atau alam sendiri menurut triade tesis, antitetis, sistesis di capai hakikat kenyataan. Dialektis itu di ungkapkan sebagai tiga langkah, yaitu dua pengertian yang bertentangan kemudian di damaikan (tesis-antitesis-sintesis).
9.    Metode Non-positivistis
Kenyataan yang di pahami menurut hakikatnya dengan jalan mempergunakan aturan-aturan seperti berlaku pada ilmu pengetahuan positif (eksakta).
10.    Metode analitika bahasa : Wittgenstein
Dengan jalan analisa pemakaian bahasa sehari-hari ditentukan sah atau tidaknya ucapan-ucapan filosofis. Metode ini di nilai cukup netral sebab tidak sama sekali mengendalikan salah satu filsafat. Keistimewaannya adalah semua kesimpulan dan hasilnya senantiasa di dasarkan kepada penelitian bahasa yang logis.

II.  Konsep-konsep Filsafat & Filsafat Ilmu
    Empirisme, salah satu konsep mendasar mengenai filsafat ilmu adalah empirisme atau ketergantungan pada bukti. Empirisme adalah cara pandang bahwa ilmu pengetahuan diturunkan dari pengalaman yang dialami selama hidup. Oleh karena itu, pernyataan ilmiah berarti harus berdasarkan dari sebuah pengamatan atau pengalaman.
Hipotesa ilmiah dikembangkan dan diuji dengan menggunakan metode empiris, melalui berbagai pengamatan, dan eksperimentasi. Setelah pengamatan dan eksperimentasi dapat selalu diulang dan mendapatkan hasil yang konsisten, hasil ini bisa dianggap sebagai bukti yang dapat dipakai untuk mengembangkan teori-teori yang bertujuan untuk menjelaskan fenomena alam.
    Falsifibilitas, salah satu cara yang dipakai untuk membedakan antara ilmu dan bukan ilmu, yaitu konsep falsifiabilitas. Konsep ini dicetuskan oleh Karl Popper pada 1919 sampai 1920. Kemudian, konsep ini dikembangkan lagi pada era 1960-an.  Prinsip dasar dari konsep ini adalah sebuah pernyataan ilmiah harus memiliki metode yang jelas dan dapat dipakai untuk membantah atau menguji teori tersebut. Contohnya, mencoba untuk mendefinisikan sebuah kejadian atau fenomena apa yang tidak mungkin terjadi bila pernyataan ilmiah tersebut memang benar. Perhatikan Peta Konsep Filsafat Ilmu dibawah ini :


3.  Generalisasi
1. Hakekat Filsafat
•    Secara bahasa Philo/philia/philare yang artinya cinta, ingin, senang  dan kata Sophia/sophos yang artinya ilmu, kebijaksanaan atau pengetahuan. Jadi idzofahnya menjadi filsafat/falsafah/filosofi yang artinya mencintai kebijaksanan pengetahuan dan kenginan yang kuat akan ilmu pengetahuan. Jadi berfikir filsafat mengandung makna berfikir tentang segala sesuatu yang ada secara kritis, sistematis,tertib,rasional dan komprehensip
2. Hakikat Filsafat Ilmu
a.  Pengertian Filsafat Ilmu
•    merupakan  cabang  dari  filsafat  yang  secara  sistematis  menelaah sifat dasar  ilmu, khususnya mengenai metoda, konsep- konsep, dan praanggapan-pra-anggapannya, serta letaknya dalam  kerangka umum dari cabang-cabang pengetahuan intelektual.
•    filsafat ilmu  pada  dasarnya  adalah  ilmu  yang  berbicara  tentang  ilmu pengetahuan  (science  of  sciences)  yang  kedudukannya  di  atas ilmu lainnya. Dalam menyelesaikan kajiannya pada konsep ontologis.  ,secara  epistemologis dan   tinjauan  ilmu  secara aksiologis.
 b.  Karakteristik filsafat ilmu
•    Filsafat ilmu merupakan cabang dari filsafat.
•    Filsafat  ilmu  berusaha menelaah  ilmu  secara  filosofis  dari berbagai  sudut  pandang dengan sikap kritis dan evaluatif terhadap kriteria-kriteria ilmiah, sitematis berpangkal pada metode ilmiah , analisis obyektif, etis dan falsafi atas landasan ilmiah  dan sikap konsisten dalam membangun teori serta tindakan  ilmiah
3.    Objek filsafat ilmu
•    Objek material filsafat ilmu adalah ilmu dengan segala gejalanya manusia untuk tahu.
•    Objek  formal  filsafat  ilmu adalah  ilmu atas dasar  tinjauan  filosofis,  yaitu secara ontologis, epistemologis, dan aksiologis dengan berbagai gejala dan upaya pendekatannya.  
4.    Lingkup dan problema substansi filsafat ilmu
•    Cakupannya pembahasan tentang problema substansi landasan ontologis ilmu, epistemologi ilmu, dan pembahasan mengenai landasan aksiologis dari sebuah ilmu.
5. Manfaat mempelajari filsafat ilmu
•    Semakin kritis  dalam  sikap  ilmiah dan aktivitas ilmu/keilmuan
•    Menambah pemahaman  yang  utuh  mengenai  ilmu  dan mampu menggunakan  pengetahuan  tersebut  sebagai  landasan  dalam  proses  pembelajaran  dan  penelitian  ilmiah.
•    Memecahkan  masalah dan  menganalisis berbagai  hal  yang  berhubungan  dengan masalah  yang  dihadapi. 
•    Tidak terjebak dalam bahaya arogansi intelektual
•    Merefleksikan, menguji, mengkritik asumsi dan metode ilmu terus-menerus sehingga ilmuwan tetap bermain dalam koridor yang benar (metode dan struktur ilmu)
•    Mempertanggungjawabkan metode keilmuan secara logis-rasional
•    Memecahkan masalah keilmuan secara cerdas dan valid
•    Berpikir sintetis-aplikatif (lintas ilmu-kontesktual)

4. Tokoh-tokoh Filsuf Terkenal
1. Sokrates
Sokrates adalah filsuf Yunani yang terlahir di Athena. Ia hidup pada era kejayaan kota itu, sekitar 470 SM. Sokrates adalah seorang penanya ulung. Dia selalu bertanya dan terus bertanya untuk mencari kebenaran atas sesuatu yang menjadi kegelisahannya.
Sokrates selalu menghasilkan pertanyaan baru atas jawaban yang diberikan oleh orang-orang yang ditanyainya. Dengan demikian, orang yang menjawab itu seakan dipaksa untuk menarik kembali jawabannya. Sokrates adalah filosof yang melahirkan fajar pemikiran rasional di dunia.
2. Plato
Plato diperkirakan lahir sekitar tahun 365 SM. Ia adalah filosof yang menjembatani dunia menusia dengan dunia yang abstrak. Pemikiran Plato melampaui semua jenis ilmu pengetahuan, baik matematika hingga ilmu astronomi. Bahkan muncul pernyataan bahwa filsafat yang ada sekarang ini hanyalah catatan-catatan kaki terhadap pemikiran Plato.
Plato adalah seorang yang jenius dalam banyak hal. Ia adalah murid dari Sokrates. Karya-karyanya yang kebanyakan berupa dialog ditulisnya dalam prosa Yunani yang sangat indah, dan merupakan karya seni di bidang filsafat. Plato dianggap sebagai profesor pertama di dunia.
3. Aristoteles
Aristoteles lahir pada 384 SM. Dia adalah orang pertama yang memetakan cabang-cabang ilmu pengetahuan dan merumuskan logika. Aristoteles memelopori pendekatan filsafat yang berangkat dari pengamatan dan pengalaman sebelum pemikiran abstrak. Aristoteles adalah salah satu murid Plato yang jenius.
Walaupun Aristoteles adalah murid Plato, tetapi ia selalu berdebat dengan gurunya jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan pikirannya. “Saya mencintai Plato, tetapi lebih mencintai kebenaran,” katanya.
4.  Wittgenstein
Tokoh filsuf ini mempunyai aliran analitik (filsafat analitik) yang dikembangkan di negara-negara yang berbahasa Inggris, tetapi  juga diteruskan di Polandia. Filsafat analitik menolak setiap  bentuk filsafat yang berbau  ″metafisik”. Filsafat analitik menyerupai  ilmu-ilmu alam yang empiris, sehingga kriteria yang berlaku  dalam ilmu eksata juga harus dapat diterapkan pada filsafat. Yang menjadi obyek penelitian filsafat analitik sebetulnya bukan barang-barang, peristiwa-peristiwa, melainkan pernyataan, aksioma, prinsip. Filsafat analitik menggali dasar-dasar teori ilmu yang berlaku bagi setiap ilmu tersendiri. Yang menjadi pokok perhatian filsafat analitik ialah analisa logika bahasa sehari-hari, maupun dalam mengembangkan sistem bahasa buatan.
5. Imanuel Kant
Tokoh filsuf ini mempunyai aliran atau filsafat ″kritik” yang tidak mau melewati batas kemungkinan pemikiran manusiawi. Rasionalisme dan empirisme ingin disintesakannya. Untuk itu ia membedakan akal, budi, rasio, dan pengalaman inderawi. Pengetahuan merupakan hasil kerja sama antara pengalaman indrawi yang aposteriori dan keaktifan akal, faktor priori. Struktur pengetahuan harus kita teliti. Kant terkenal karena tiga tulisan: (1) Kritik atas rasio murni, apa yang saya dapat ketahui. Ding an sich, hakikat kenyataan yang dapat diketahui. Manusia hanya dapat mengetahui gejala-gejala yang kemudian oleh akal terus ditampung oleh dua wadah pokok, yakni ruang dan waktu. Kemudian diperinci lagi misalnya menurut kategori sebab dan akibat dst. Seluruh pengetahuan kita berkiblat pada Tuhan, jiwa, dan dunia. (2) Kritik atas rasio praktis, apa yang harus saya buat. Kelakuan manusia ditentukan oleh kategori imperatif, keharusan mutlak: kau harus begini dan begitu. Ini mengandaikan tiga postulat: kebebasan, jiwa yang tak dapat mati, adanya Tuhan. (3) Kritik atas daya pertimbangan. Di sini Kant membicarakan peranan perasaan dan fantasi, jembatan antara yang umum dan yang khusus.
6. Rene Descartes.
Berpendapat bahwa kebenaran terletak pada diri subyek. Mencari titik pangkal pasti dalam pikiran dan pengetahuan manusia, khusus dalam ilmu alam. Metode untuk memperoleh kepastian ialah menyangsikan segala sesuatu. Hanya satu kenyataan tak dapat disangsikan, yakni aku berpikir, jadi aku ada. Dalam mencari proses kebenaran hendaknya kita pergunakan ide-ide yang jelas dan tajam. Setiap orang, sejak ia dilahirkan, dilengkapi dengan ide-ide tertentu, khusus mengenai adanya Tuhan dan dalil-dalil matematika. Pandangannya tentang alam bersifat mekanistik dan kuantitatif. Kenyataan dibaginya menjadi dua yaitu: “res extensa dan res copgitans”.


Daftar Pustaka

Hamdani ihsan & Fuad Ihsan, Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung;Pustaka Setia, 2007)
Ahmad Charis,Z, Dimensi Etik dan Asketik Ilmu Pengetahuan Manusia;Kajian Filsafat Ilmu, (Jogyakarta:LESFI,2002)
Juraid Abdul Latif,M.Hum, Manusia Filsafar dan Sejarah,(Jakarta;Bumi Aksara, 2006)
Amsal bakhtiar , FIlsafat ilmu  ,(Jakart;Raja Grafindo, 2006)
Anthony Preus, Historical Dictionary of Ancient Greek Philosophy, , The Scarecrow Press, Inc. Lanham, Maryland • Toronto • Plymouth, UK, 2007)
DEPAG,  Al Qur’an dan Terjemahannya (Jakarta: Depag, 1974) 421
Lukkisno CW, Pengantar Filsafat Ilmu, Bahan Presentasi  kuliah Filsafat di Fak.Ushuluddin, Bandingkan dengan buku Tahu dan Pengetahuan karangan Jujun S. Suriasumantri penerbit OBOR Jakarta.
Made Pramono, S.S., M.Hum. Filsafat Ilmu,Bahan Presentasi kuliah Pascasarjana UNESA.
C. Verhaak dkk, FIlsafat Ilmu Pengetahuan,(Jakarta; Gramedia, 1995) 107-108
Mohammad  Adib,Filsafat Ilmu;ontologi,Epistemologi, Aksiologi, dan logika Ilmu Pengetahuan (Yogyakarta;Pustaka Pelajar,2010) 53
JB. Blikolong, FILSAFAT ILMU SEBUAH PENGANTAR, (Seri diktat kuliah) Universitas Gunadarma Jakarta, ….., Hal. 7
Stathis Psillos and Martin Curd  , Introduction;Historical and philosophical Context ,Canada: Routledge, 2008) xix
John Losee,A Historical Introduction to the Philosophy of Science, Fourth edition, (London;OXFORD UNIVERSITY PRESS,….) .2
Ahmad Syadali dan Mudzakir, Filsafat Umum, ( Bandung; Pustaka Setia , 1997,) 12
M. Solihin, Perkembangan Pemikiran FIlsafat dari klasik hingga modern, h. 15
Alex Rosenberg,Philosophy of Science  A contemporary Iintroduction,(New york; Routledge,2010) 4

Anotasi Bibliografi E-Learning

(1). Karl L. Smart and James J. (2006).Cappel. Students’ Perceptions of Online Learning: A Comparative Study. Journal of Information Technology Education Volume 5. P 201-219. Central Michigan University, Mount Pleasant, MI, USA

In search of better, more cost effective ways to deliver instruction and training, universities and corporations have expanded their use of e-learning. Although several studies suggest that online education and blended instruction (a “blend” of online and traditional approaches) can be as effective as traditional classroom models, few studies have focused on learner satisfaction with online instruction, particularly in the transition to online learning from traditional approaches. This study examines students’ perceptions of integrating online components in two undergraduate business courses where students completed online learning modules prior to class discussion. The results indicate that participants in an elective course rated the online modules significantly better than those in a required course. Overall, participants in the elective course rated the online modules marginally positive while those in the required course rated them marginally negative.
These outcomes  suggest that instructors should be selective in the way they integrate online units into traditional, classroom-delivered courses. This integration should be carefully planned based on learner characteristics, course content, and the learning context. For most participants of the study (83 percent), this was their first experience completing an online learning activity or module. In addition, the largest dissatisfaction factor reported among the participants was the time required to complete the online modules. Future research is encouraged to explore: (1) how previous experience with technology and online learning affects students’ attitudes towards and success with e-learning; and (2) the effects of interspersing online units that are considerably shorter in length into the traditional classroom model. This additional research can provide greater insight into which factors promote e-learning success.

Komentar
Dalam pencarian yang lebih baik, cara yang lebih efektif biaya untuk memberikan instruksi dan pelatihan, universitas dan perusahaan telah memperluas penggunaan e-learning. Meskipun beberapa penelitian menunjukkan bahwa pendidikan online dan instruksi dicampur (suatu "campuran" dari pendekatan online dan tradisional) dapat sebagai efektif sebagai model kelas tradisional, beberapa studi telah berfokus pada kepuasan peserta didik dengan instruksi online, terutama dalam transisi menuju pembelajaran online dari tradisional pendekatan. Studi ini meneliti persepsi siswa mengintegrasikan komponen online di dua program sarjana bisnis dimana siswa menyelesaikan modul belajar online sebelum diskusi kelas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta kursus elektif modul online yang dinilai signifikan lebih baik daripada mereka dalam program yang dibutuhkan. Secara keseluruhan, peserta dalam kursus elektif online modul dinilai sedikit positif sedangkan pada program yang dibutuhkan dinilai mereka sedikit negatif. Hasil-hasil ini menunjukkan bahwa instruktur harus selektif dalam cara mereka mengintegrasikan unit online ke tradisional, kelas-disampaikan kursus. Integrasi ini harus hati-hati direncanakan berdasarkan karakteristik peserta didik, isi kursus, dan konteks pembelajaran. Untuk sebagian besar peserta studi (83 persen), ini adalah pengalaman pertama mereka menyelesaikan kegiatan belajar online atau modul. Selain itu, faktor ketidakpuasan terbesar dilaporkan di antara para peserta adalah waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan modul online. Penelitian di masa depan didorong untuk mengeksplorasi: (1) bagaimana pengalaman sebelumnya dengan teknologi dan pembelajaran online mempengaruhi sikap siswa terhadap dan sukses dengan e-learning, dan (2) efek dari interspersing unit online yang jauh lebih pendek panjang ke dalam kelas tradisional Model. Penelitian tambahan ini dapat memberikan wawasan yang lebih besar faktor-faktor yang mempromosikan e-learning sukses.

(2). Alex Koohang, Liz Riley, and Terry Smith. (2009). E-Learning and Constructivism: From Theory to Application. Interdisciplinary Journal of E-Learning and Learning Objects Volume 5. Macon State College, Macon, Georgia, USA

This paper presents a learner-centered model for designing e-learning assignments/activities within e- learning environments. The model is based on constructivism learning theory. The model includes two categories - the learning design elements (comprised of fundamental design elements and collaborative elements) and the learning assessment elements (self-assessment, team assessment, and facilitator’s assessment). The application of the model is shown through various working examples. A factual situation using the model within an e-learning course is presented to further demonstrate the application of the model in an actual e-learning environment.

Komentar
Makalah ini menyajikan model pembelajar berpusat untuk merancang e-learning tugas / kegiatan dalam lingkungan e-learning. Model ini didasarkan pada teori belajar konstruktivisme. Model ini mencakup dua kategori - elemen desain pembelajaran (terdiri dari elemen desain dasar dan elemen kolaboratif) dan unsur-unsur penilaian belajar (penilaian diri, penilaian tim, dan penilaian fasilitator). Penerapan model ditunjukkan melalui berbagai contoh-contoh kerja. Sebuah situasi faktual dengan menggunakan model tersebut dalam sebuah kursus e-learning disajikan untuk lebih menunjukkan penerapan model dalam lingkungan e-learning yang sebenarnya

(3). Fernando Alonso, Genoveva López, Daniel Manrique and José M Viñes. (2005).  An instructional model for web-based e-learning education with a blended learning process approach. British Journal of Educational Technology Vol 36 No 2. 217–235

Web-based e-learning education research and development now focuses on the inclusion of new technological features and the exploration of software standards. However, far less effort is going into finding solutions to psychopedagogical problems in this new educational category. This paper proposes a psychopedagogical instructional model based on content structure, the latest research into information processing psychology and social contructivism, and defines a blended approach to the learning process. Technologically speaking, the instructional model is supported by learning objects, a concept inherited from the object-oriented paradigm.


Komentar
Web-based e-learning pendidikan penelitian dan pengembangan sekarang berfokus pada dimasukkannya fitur teknologi baru dan eksplorasi standar perangkat lunak. Namun, usaha jauh lebih sedikit pergi ke mencari solusi untuk masalah psychopedagogical dalam kategori ini pendidikan baru. Makalah ini mengusulkan sebuah model pembelajaran psychopedagogical berdasarkan struktur konten, penelitian terbaru ke dalam psikologi informasi pengolahan dan contructivism sosial, dan mendefinisikan pendekatan dicampur untuk proses pembelajaran. Teknologi berbicara, model pembelajaran didukung oleh obyek pembelajaran, konsep yang diwarisi dari paradigma berorientasi objek.


(4). Alex Koohang,  Angela Durante. (2003). Learners’ Perceptions toward the Web-based Distance Learning Activities/Assignments Portion of an Undergraduate Hybrid Instructional Model. Journal of Information Technology Education Volume 2. 105-113

The purpose of this study is to measure learners’ perceptions toward the Web-based distance learning activities/assignments portion of a hybrid program. These activities and assignments were designed based on a set of appropriate instructional parameters and objectives. By measuring learners’ perceptions, this study attempts to find whether these activities/assignments promote learning. This study gives attention to the variables of age, gender, and experience with the Internet to find whether these variables are significant factors in learners’ perceptions toward the Web-based distance learning activities/ assignments portion of the hybrid program. A ten-item Likert-type instrument was designed based on the instructional parameters and objectives. The instrument collects information about the learners’ perceptions of Web-based distance learning activities and assignments portion of the hybrid program. The subjects of this study were 106 students who were enrolled in an undergraduate hybrid program in management designed for working adults. In addition to descriptive analyses, three separate Analyses of Variance (one-way ANOVA) were conducted to answer the research questions in this study. Results indicated that overall students gravely perceived that the Web-based distance learning activities/assignments portion of their hybrid program promoted learning. Age and gender were not significant factors. However, there was a significant difference among levels of learners’ experience with the Internet and their perceptions toward the Web-based distance learning activities/assignments portion of the hybrid program. Subjects who had more experience with the Internet indicated significantly higher perceptions toward the Web-based distance learning activities/assignments portion of the hybrid program. The findings are discussed and recommendations are made based on the results of this study.

Komentar
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengukur persepsi peserta didik terhadap jarak berbasis web kegiatan belajar / tugas bagian program hibrida. Kegiatan-kegiatan dan tugas dirancang didasarkan pada set parameter yang sesuai dan tujuan instruksional. Dengan mengukur persepsi peserta didik, penelitian ini mencoba untuk mengetahui apakah kegiatan / tugas mempromosikan pembelajaran. Studi ini memberikan perhatian pada variabel usia, jenis kelamin, dan pengalaman dengan Internet untuk mengetahui apakah variabel-variabel ini merupakan faktor yang signifikan dalam persepsi pembelajar 'terhadap jarak berbasis web kegiatan belajar / tugas Bagian dari program hibrida. Sebuah sepuluh-item Likert-jenis instrumen dirancang didasarkan pada parameter dan tujuan instruksional. Instrumen mengumpulkan informasi tentang persepsi pembelajar berbasis Web kegiatan pembelajaran jarak jauh dan sebagian tugas dari program hibrida. Subyek penelitian ini adalah 106 siswa yang terdaftar dalam program sarjana dalam manajemen hibrida dirancang untuk orang dewasa bekerja. Selain analisis deskriptif, tiga Analisis Varians terpisah (satu-way ANOVA) dilakukan untuk menjawab pertanyaan penelitian dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa keseluruhan serius dirasakan bahwa jarak berbasis web kegiatan belajar / tugas bagian dari program hibrida mereka dipromosikan belajar. Usia dan jenis kelamin bukanlah faktor signifikan. Namun, ada perbedaan yang signifikan antara tingkat pengalaman pembelajar 'dengan internet dan persepsi mereka terhadap jarak berbasis web kegiatan belajar / tugas Bagian dari program hibrida. Subyek yang memiliki pengalaman lebih banyak dengan internet menunjukkan persepsi secara signifikan lebih tinggi ke arah berbasis web kegiatan pembelajaran jarak jauh / porsi penugasan dari program hibrida. Temuan yang dibahas dan rekomendasi yang dibuat berdasarkan hasil penelitian ini.

(5). Govindasamy, Thavamalar. (2002).Successful implementation of e-Learning Pedagogical considerations. Internet and Higher Education 4 (2002) 287–299.

Many institutions of Higher Education and Corporate Training Institutes are resorting to e-Learning as a means of solving authentic learning and performance problems, while other institutions are hopping onto the bandwagon simply because they do not want to be left behind. Success is crucial because an unsuccessful effort to implement e-Learning will be clearly reflected in terms of the return of investment. One of the most crucial prerequisites for successful implementation of e-Learning is the need for careful consideration of the underlying pedagogy, or how learning takes place online. In practice, however, this is often the most neglected aspect in any effort to implement e-Learning. The purpose of this paper is to identify the pedagogical principles underlying the teaching and learning activities that constitute effective e-Learning. An analysis and synthesis of the principles and ideas by the practicing e-Learning company employing the author will also be presented, in the perspective of deploying an effective

Komentar
Banyak lembaga Pendidikan Tinggi dan Lembaga Pelatihan Perusahaan yang beralih ke e-Learning sebagai cara untuk memecahkan masalah belajar dan kinerja otentik, sementara lembaga lain yang melompat ke kereta musik hanya karena mereka tidak ingin ketinggalan. Sukses adalah penting karena upaya yang gagal untuk menerapkan e-Learning akan secara jelas tercermin dalam hal pengembalian investasi. Salah satu prasyarat yang paling penting untuk keberhasilan pelaksanaan e-Learning adalah kebutuhan untuk pertimbangan cermat dari pedagogi yang mendasari, atau bagaimana belajar mengambil tempat online. Dalam prakteknya, bagaimanapun, ini sering aspek yang paling diabaikan dalam setiap upaya untuk melaksanakan e-Learning. Tujuan dari makalah ini adalah untuk mengidentifikasi prinsip-prinsip pedagogis yang mendasari pengajaran dan kegiatan belajar yang efektif yang merupakan e-Learning. Sebuah analisis dan sintesis dari prinsip-prinsip dan ide-ide oleh perusahaan e-Learning berlatih mempekerjakan penulis juga akan disajikan, dalam perspektif penggelaran yang efektif

(6). Lesta A. Burgess and Shawn D. Strong. (2003). Trends in Online Education: Case Study at Southwest Missouri State University. Volume 19, Number 3 - May 2003 to July 2003.

Proponents argue that online courses actually are better than traditional instruction at discouraging  student passivity and encouraging lifelong learning. Particularly in an interactive, multimedia environment, students often find greater opportunities to learn by working through new concepts. Even with relatively low-tech presentations online, they enjoy the freedom to proceed slowly or click past material they already know. Ideally, e-learning. also promotes group learning and inquiry via serial e-mails known as “discussion threads” (Rosenbaum, 2001). According to Cooper (2001), when asked to comment on the advantages of online classes or the “most helpful features of online instruction,” over 80%of the students stated that online classes enabled them to better manage work and school, and they liked be ing able to learn at a self-directed pace. Cooper (2001) further stated, “many students commented that online instruction enabled them to be personally responsible for their own learning and determine for themselves the amount of time they needed to achieve expected outcomes and meet course requirements.” Not having to spend time commuting, finding babysitters, or actually sitting in class were other significant advantages noted by a number of online students who described themselves as full-time employees or stay-at-home mothers who wanted a college degree but found it difficult to attend classes at a fixed time.

Komentar
Para pendukung berpendapat bahwa program online benar-benar lebih baik daripada instruksi tradisional di mengecilkan pasif siswa dan mendorong belajar sepanjang hayat. Khususnya di lingkungan, multimedia interaktif, siswa sering menemukan peluang lebih besar untuk belajar dengan bekerja melalui konsep-konsep baru. Bahkan dengan teknologi yang relatif rendah presentasi online, mereka menikmati kebebasan untuk melanjutkan perlahan-lahan atau klik materi yang lalu mereka sudah tahu. Idealnya, e-learning. juga mempromosikan belajar kelompok dan pertanyaan melalui e-mail berantai yang dikenal sebagai "benang diskusi" (Rosenbaum, 2001). Menurut Cooper (2001), ketika diminta untuk mengomentari keuntungan dari kelas online atau "fitur bermanfaat sebagian besar instruksi online," lebih dari 80% dari siswa menyatakan bahwa kelas online memungkinkan mereka untuk lebih baik mengelola pekerjaan dan sekolah, dan mereka menyukai ing akan mampu belajar dengan kecepatan self-directed. Cooper (2001) lebih lanjut menyatakan, "banyak siswa berkomentar bahwa instruksi online memungkinkan mereka untuk menjadi pribadi bertanggung jawab atas pembelajaran mereka sendiri dan menentukan sendiri jumlah waktu yang mereka butuhkan untuk mencapai hasil yang diharapkan dan memenuhi persyaratan kursus." Tidak harus menghabiskan waktu Komuter , menemukan babysitter, atau benar-benar duduk di kelas adalah keuntungan yang signifikan lainnya dicatat oleh sejumlah mahasiswa online yang menggambarkan diri mereka sebagai karyawan penuh-waktu atau tinggal di rumah ibu yang menginginkan gelar sarjana, tetapi sulit untuk menghadiri kelas di sebuah tetap waktu.

(7). Ahmad, Alobiedat. (2010).Tafila Technical University Students’ Perception of Electronic Learning. European Journal of Scientific Research ISSN 1450-216X Vol.46 No.3 (2010), pp.391-400

In the twentieth century the dynamic development of Electronic Learning (elearning) and the development of emerging technologies require learning new technologies at school, work, and home. These new technologies are everywhere, and we cannot avoid them. Lifelong learning is required of each of us to use e-learning, we also are expected to learn more effectively from it. As higher education attempts to meet the growing demand for courses delivered via e-learning, identification of potential barriers to student acceptance and adoption are needed. The purpose of the study was to describe student perceptions with respect to e-learning competence, value, and information technology support by philosophical position towards use of e-learning. In general, from the finding of the study students perception towards the use of e-learning was high, also the result shows that there are no significant differences between the gender and study level, but there was significant differences between having access to the Internet, and those who do not have access to the Internet. According to the result of the study the researcher recommends the use of e-learning in the learning process. Also provides the students with an access to the Internet in the university, and more open lab hours.

Komentar
Pada abad kedua puluh perkembangan dinamis Pembelajaran Elektronik (elearning) dan pengembangan teknologi yang sedang berkembang membutuhkan teknologi baru belajar di sekolah, pekerjaan rumah, dan. Ini teknologi baru di mana-mana, dan kita tidak dapat menghindari mereka. Pembelajaran seumur hidup yang diperlukan dari masing-masing kita untuk menggunakan e-learning, kita juga diharapkan untuk belajar lebih efektif dari itu. Sebagai upaya pendidikan tinggi untuk memenuhi permintaan kursus yang disampaikan melalui e-learning, identifikasi hambatan potensial untuk penerimaan mahasiswa dan adopsi yang diperlukan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan persepsi mahasiswa terhadap e-learning kompetensi, nilai, dan informasi dukungan teknologi dengan posisi filosofis terhadap penggunaan e-learning. Secara umum, dari temuan studi persepsi siswa terhadap penggunaan e-learning itu tinggi, juga hasilnya menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara gender dan tingkat pendidikan, tapi ada perbedaan yang signifikan antara memiliki akses ke Internet, dan mereka yang tidak memiliki akses ke Internet. Menurut hasil penelitian peneliti merekomendasikan penggunaan e-learning dalam proses pembelajaran. Juga menyediakan siswa dengan akses ke Internet di universitas, dan jam lab lebih terbuka.

(8). Matthew Pittinsky, Anthony Cocciolo and Hui Soo Chae. Using eLearning Systems to Scale-Up Educational Research: The Networked Education Database (NED) Projecthttp://edlab.tc.columbia.edu/files/ned_icel_final_0.pdf

Course management systems (CMS) play a critical role in supporting learning and teaching in online degree programs and virtual high schools, as well as augmenting traditional classroom environments. Simultaneously, they provide a tremendous amount of system data about user activity in online spaces, and a unique technology for collecting custom educational data asynchronously and confidentially. From highlighting diverse instructional strategies to elucidatingstudent evaluation practices, CMS can help researchers understand the processes by which learning happens in both online and offline environments. This paper will detail an innovative course management data collection project called the Networked Education Database (NED). As part of NED, during the 2006-2007 school year, 732 students and 19 teachers in 37 classrooms across three secondary schools will be using their school’s e-Learning system to submit anonymous socio-metric, social psychological, and student performance information, longitudinally, to a central database. The paper will report on the logistical issues in operating a networked data gathering system, as well as ther esults from the pilot data collection activities.

Komentar
Sistem manajemen kursus (CMS) memainkan peran penting dalam mendukung belajar dan mengajar di program gelar online dan sekolah tinggi virtual, serta menambah lingkungan kelas tradisional. Bersamaan dengan itu, mereka memberikan sejumlah besar data sistem mengenai aktivitas pengguna dalam ruang online, dan teknologi yang unik untuk mengumpulkan data pendidikan kustom asynchronous dan rahasia. Dari menyoroti strategi instruksional yang beragam untuk praktek evaluasi elucidatingstudent, CMS dapat membantu para peneliti memahami proses yang terjadi dalam lingkungan belajar baik online dan offline. Makalah ini akan detail pengelolaan data proyek yang inovatif saja koleksi yang disebut Database Jaringan Pendidikan (NED). Sebagai bagian dari NED, selama tahun ajaran 2006-2007, 732 siswa dan 19 guru di 37 kelas di tiga sekolah menengah akan menggunakan e-Learning sistem sekolah mereka untuk mengirimkan informasi kinerja anonim sosio-metrik, sosial psikologis, dan mahasiswa, longitudinal , ke database pusat. Makalah ini akan melaporkan pada isu-isu logistik dalam operasi suatu sistem pengumpulan data jaringan, serta ada esults dari kegiatan percontohan pengumpulan data.

(9).  Maurice,Grzeda. Gloria E Miller ., (2009).  The Effectiveness of an Online MBA Program in Meeting Mid-Career Student Expectations . The Journal of Educators Online, Volume 6, Number 2, July 2009. 1-16.


 Advances in teaching technologies have made online MBA programs more accessible to mid-career learners; precisely those who many suggest should be targeted. Previous research on the value of the MBA has focused on various student motivations, but not specifically on the experiences of North American mid-career learners. This study reports the results of a survey which asked online MBA students about expected career outcomes, why they had chosen the online format, and what skills they expected to acquire. A better understanding of the expectations of mid-career learners enrolled in online MBA studies may assist program designers in developing meaningful curriculum, and lead to improved pedagogies.

Komentar
Kemajuan dalam teknologi pengajaran telah membuat program MBA online lebih mudah diakses pertengahan karir peserta didik; justru mereka yang banyak menunjukkan harus ditargetkan. Penelitian sebelumnya pada nilai dari MBA ini difokuskan pada motivasi siswa berbagai, tetapi tidak secara khusus pada pengalaman Utara pertengahan karir pelajar Amerika. Penelitian ini melaporkan hasil survei yang meminta mahasiswa MBA online tentang hasil karir yang diharapkan, mengapa mereka memilih format online, dan keterampilan apa yang mereka diharapkan untuk mendapatkan. Pemahaman yang lebih baik dari harapan pertengahan karir peserta didik yang terdaftar dalam studi MBA online dapat membantu perancang program dalam mengembangkan kurikulum yang bermakna, dan menyebabkan pedagogies ditingkatkan.

(10). Jafar Yaghoubi. (2008). Virtual students' perceptions of e-learning in iran. The turkish online journal of educational technology – TOJET July 2008 ISSN: 1303-6521 volume 7 Issue 3 Article 10.

With the emergence of the Internet, e-learning has increasingly become the promising solution that continues to grow day after day. Considering students’ perception toward e-learning is important in successful development of e-learning in higher education, since attitude of user towards application of information technology is one of the most effective factors. This paper examines perception of virtual students’ attitudes towards e-learning in Iran. A  escriptive–correlation survey approach was used in this study. Students (n = 110) filled in a web-based closed questions questionnaire. Reliability and validity of instrument were determined by investigating the attitudes of e-learning specialists in Tehran University and application of Cronbach’s Alpha (α=0.88.) Descriptive and inferential statistics were used to analyze the data using SPSS Win13. Questionnaires received were analyzed, putting the students' perceptions in relation to gender, age, knowledge of computers and attitudes to advantages and disadvantages of e-learning. Results showed that students have positive perception to elearning. Liner regression analysis indicated that 68% of variation in virtual students' perceptions of e-learning was determined by the four variables of: Students’ assessment about competency of e-learning, access to internet, computer and internet usage and assessment of current higher education system’s shortcomings.

Komentar
Dengan munculnya Internet, e-learning telah semakin menjadi solusi yang menjanjikan yang terus tumbuh hari demi hari. Persepsi siswa mempertimbangkan 'terhadap e-learning adalah penting dalam keberhasilan pengembangan e-learning dalam pendidikan lebih tinggi, karena sikap pengguna terhadap aplikasi teknologi informasi adalah salah satu faktor yang paling efektif. Makalah ini membahas persepsi sikap siswa virtual 'menuju e-learning di Iran. Pendekatan survei escriptive-korelasi yang digunakan dalam penelitian ini. Siswa (n = 110) mengisi kuesioner pertanyaan tertutup berbasis web. Reliabilitas dan validitas instrumen ditentukan oleh sikap menyelidiki e-learning spesialis di Universitas Teheran dan penerapan Cronbach Alpha (α = 0,88.) Statistik deskriptif dan inferensial yang digunakan untuk menganalisis data menggunakan SPSS Win13. Kuesioner diterima dianalisis, menempatkan persepsi siswa dalam kaitannya dengan jenis kelamin, usia, pengetahuan tentang komputer dan sikap untuk keuntungan dan kerugian e-learning. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa memiliki persepsi positif untuk elearning. Liner analisis regresi menunjukkan bahwa 68% dari variasi dalam siswa virtual 'persepsi e-learning ditentukan oleh empat variabel: Mahasiswa' penilaian tentang kompetensi dari e-learning, akses ke internet, komputer dan penggunaan internet dan penilaian pendidikan tinggi saat ini kekurangan sistem.

(11). Birgitta Rydhagen and Lena Trojer. Digital Delivery. E-learning in Rural Secondary Schools in Tanzania. Blekinge Institute of Technology. http://spidercentre.org/files/506.pdf. TEHAMA – Technologia eHabari Mawasiliano – information and communication technology in kiSwahili.

This paper is a presentation of results from a study within a research project for e-learning in rural Tanzania running at the University of Dar es Salaam and the prospective College of Engineering and Technology, and concerns specifically the platform and content of the elearning project in Tanzania. This particular study is also part of SPIDER; the Swedish Program for ICT in Developing Regions, from which funding has been received. The work done in this e-learning project has explicit links to a parallel project conducted by colleagues at Technical Faculty of Makerere University, Uganda, and situated at Arua district just by the border to Democratic Republic of Congo. Valuable comparisons can be made and the importance of situated, context sensitive approaches be explored.

Komentar
Tulisan ini adalah presentasi hasil dari penelitian dalam proyek penelitian untuk e-learning di pedesaan Tanzania berjalan di Universitas Dar es Salaam dan calon College Teknik dan Teknologi, dan kekhawatiran khususnya platform dan isi dari proyek elearning di Tanzania. Studi ini juga merupakan bagian dari SPIDER; Program Swedia untuk ICT di Daerah Berkembang, dari mana dana telah diterima. Kerja yang dilakukan dalam proyek e-learning memiliki link eksplisit untuk sebuah proyek paralel yang dilakukan oleh rekan-rekannya di Fakultas Teknik Universitas Makerere, Uganda, dan terletak di kabupaten Arua hanya dengan perbatasan ke Republik Demokratik Kongo. Berharga perbandingan dapat dibuat dan pentingnya terletak, pendekatan konteks sensitif dieksplorasi

(12). Elmarie,Engelbrecht. (2003). A look at e-learning models: investigating their value for developing an e-learning strategy. Progressio 2003 25(2):38-47.

Planning for the implementation of quality and sustainable e-leaning programmes requires an understanding of the impact of information and communication technology on the higher education market and on current teaching and learning practices in order to identify critical success factors that have to be addressed in an e-learning strategy. New e-learning models are continually emerging as new research findings in the area of e-learning become available. E-learning models are attempts to develop frameworks to address the concerns of the learner and the challenges presented by the technology so that online learning can take place effectively. In the strategic planning process these models provide useful tools for evaluating existing e-learning initiatives or determining critical success factors. This article explores the reasons why universities are driven to implement e-learning and reviews three selected e-learning models. The aim is to identify the critical issues in the e-learning models that have to be addressed in a strategic planning process for the implementation of e-learning or the adjustment of existing e-learning initiatives.

Komentar
Perencanaan untuk pelaksanaan kualitas dan berkelanjutan program e-bersandar membutuhkan pemahaman tentang dampak teknologi informasi dan komunikasi di pasar pendidikan tinggi dan mengajar saat ini dan praktek belajar dalam rangka untuk mengidentifikasi faktor-faktor sukses kritis yang harus ditangani dalam sebuah e -belajar strategi. E-learning model terus muncul sebagai temuan penelitian baru di bidang e-learning menjadi tersedia. E-learning model merupakan upaya untuk mengembangkan kerangka kerja untuk mengatasi masalah pelajar dan tantangan yang disajikan oleh teknologi sehingga pembelajaran online dapat berlangsung efektif. Dalam proses perencanaan strategis model ini menyediakan alat yang berguna untuk mengevaluasi ada inisiatif e-learning atau menentukan faktor keberhasilan kritis. Artikel ini membahas alasan mengapa universitas didorong untuk melaksanakan e-learning dan ulasan tiga dipilih model e-learning. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi isu-isu penting dalam e-learning model yang harus ditangani dalam proses perencanaan strategis untuk pelaksanaan e-learning atau penyesuaian yang ada inisiatif e-learning.

(13). Bonk,c.j., wisher,r.a. (2000). Applying collaborative and e-learning tools to military distance learning: a research framework. Technical report. United states army research institute for the behavioral and social sciences.

This report is a resource guide for those concerned with using collaborative and-l eearning environments– those that use the Internet -- in a military training setting. The report is intended for training developers and planners, instructional designers, and program evaluators. The report offers a broad examination of findings from the educational literature, where the preponderance of research on e-learning tools and collaborative learning (i.e., groups of learners who have a common goal) has been conducted. Reviewed first are the emergence of e -learning tools and constructivism, the role of the instructor in such approaches, and the increasing importance of learne-rcentered approaches to instruction. Appropriate quantitative and qualitative research methodologies are then described. A summary of relevant findings on collaborative tools, individual differences, and learning communities is also provided. Suggestions are made for experiments that test the adaptability to military training environments of e -learning and collaborative learning methods emanating from education. Ten primary and 17 secondary experiments are devised that derive from current psychological principles in cognition, motivation, social factors, and individual differences as applied to Interne-etnabled learning.

Komentar
Laporan ini adalah panduan sumber daya untuk mereka yang peduli dengan menggunakan kolaboratif dan-l eearning lingkungan-orang yang menggunakan internet - dalam setting pelatihan militer. Laporan ini dimaksudkan untuk pengembang pelatihan dan perencana, desainer instruksional, dan evaluator program. Laporan ini menawarkan pemeriksaan yang luas temuan dari literatur pendidikan, di mana dominan penelitian tentang alat e-learning dan pembelajaran kolaboratif (yaitu, kelompok peserta didik yang memiliki tujuan umum) telah dilakukan. Diulas pertama adalah munculnya e-learning alat dan konstruktivisme, peran instruktur dalam pendekatan seperti itu, dan semakin pentingnya learne-rcentered pendekatan untuk instruksi. Sesuai metodologi penelitian kuantitatif dan kualitatif kemudian dijelaskan. Sebuah ringkasan temuan yang relevan pada alat kolaboratif, perbedaan individu, dan masyarakat belajar juga disediakan. Saran yang dibuat untuk percobaan yang menguji kemampuan beradaptasi terhadap lingkungan pelatihan militer dari e-learning dan metode pembelajaran kolaboratif yang berasal dari pendidikan. Sepuluh percobaan sekunder primer dan 17 diciptakannya yang berasal dari prinsip-prinsip psikologis saat ini di kognisi, motivasi, faktor sosial, dan perbedaan individu seperti diterapkan interne-etnabled belajar.

 (14). Edward L. Meyen, Ron Aust and John M. Gauch. e-Learning: A Programmatic Research Construct for the Future. Journal of Special Education Technology v. 17 no. 3 (Summer 2002) p. 37-46. Summer 2002.

The Internet and its applications in education and industry have significantly influenced how we teach and learn. This has all occurred as a consequence of emerging technologies and the demands for online instruction by consumers. In the midst of this environment of rapid growth, a new form of pedagogy has emerged. However, much of it is not the result of research. This paper addresses the need for a conceptual approach to researching, e-learning instructional design and the technologies employed as a basis for e-learning. A programmatic research construct is offered as a structure for building a conceptual model. Three categories of variables are considered in building the construct. They include outcome, in situ, and independent variables. The intent of the paper is to engage researchers and developers in a process of further defining the variables and translating them into research questions that might serve as guidelines in building the literature base for the pedagogy of online instruction.

Komentar
Internet dan aplikasinya dalam pendidikan dan industri telah secara signifikan mempengaruhi bagaimana kita mengajar dan belajar. Ini semua terjadi sebagai akibat dari teknologi dan tuntutan untuk instruksi online oleh konsumen. Di tengah lingkungan pertumbuhan yang cepat, bentuk baru dari pedagogi telah muncul. Namun, banyak yang bukan hasil penelitian. Makalah ini membahas perlunya pendekatan konseptual untuk meneliti, e-belajar desain instruksional dan teknologi yang digunakan sebagai dasar untuk e-learning. Sebuah penelitian programatis membangun ditawarkan sebagai struktur untuk membangun sebuah model konseptual. Tiga kategori variabel yang dipertimbangkan dalam membangun membangun. Mereka termasuk hasil, di situ, dan variabel independen. Maksud dokumen ini adalah untuk melibatkan peneliti dan pengembang dalam proses untuk lebih mendefinisikan variabel dan menerjemahkan mereka ke dalam pertanyaan penelitian yang mungkin berfungsi sebagai pedoman dalam membangun basis literatur untuk pedagogi instruksi online.

(15). K.L. Kumar. Science and Technology Courses via E-Learning: An African Scenario with Lessons from South East Asia. International Journal on E-learning v. 1 no. 3 p. 65-70. July/September 2002.

Part of a special section on e-learning prospective in the Asia-Pacific region. The writer discusses the need for e-learning in the African context. He reviews some of the limited studies of the use of e-learning in Africa and the progress made in this area South East Asia. The writer concludes that innovative measures must be adopted to teach electronic courses in science and technology, where practical work is crucial to both the understanding of the concepts and the growth of the individual to the profession.

Komentar
Bagian dari bagian khusus pada e-learning prospektif di kawasan Asia-Pasifik. Penulis membahas kebutuhan untuk e-learning dalam konteks Afrika. Dia review beberapa studi terbatas dari penggunaan e-learning di Afrika dan kemajuan yang dibuat di daerah ini Asia Tenggara. Penulis menyimpulkan bahwa langkah-langkah inovatif harus diadopsi untuk mengajar kursus elektronik di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, di mana pekerjaan praktis adalah penting untuk kedua pemahaman konsep dan pertumbuhan individu untuk profesi.

(16). Satoru Fujitani, Bhattacharya, Madhumita and Kanji Akahori. ICT Implementation and Online Learning in Japan. Educational Technology v. 43 no. 3 p. 33-7. May/June 2003

Part of a special issue on online learning and information technology in the Asia-Pacific region. The implementation of information and communications technology (ICT) in education and online learning in Japan is discussed. Although there have been ambitious research and development efforts, the use of ICT and online learning has not been particularly appreciated at large numbers of schools in Japan. However, a project called E-Japan Strategies is now underway to emphasize the educational use of ICT and progress in the implementation of ICT in schools. Moreover, a new curriculum that puts emphasis on the use of ICT will have powerful inducements to educate students with a certain level of knowledge and skills. A suggested model for online learning in education is discussed.

Komentar
Bagian dari masalah khusus pada pembelajaran online dan teknologi informasi di kawasan Asia-Pasifik. Pelaksanaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam pendidikan dan pembelajaran online di Jepang dibahas. Meskipun telah ada penelitian ambisius dan upaya pengembangan, penggunaan ICT dan pembelajaran online belum sangat dihargai di sejumlah besar sekolah di Jepang. Namun, proyek yang disebut e-Strategi Jepang sekarang dilakukan untuk menekankan penggunaan pendidikan ICT dan kemajuan dalam penerapan TIK di sekolah. Selain itu, kurikulum baru yang menekankan pada penggunaan TIK akan memiliki bujukan kuat untuk mendidik siswa dengan tingkat tertentu pengetahuan dan keterampilan. Sebuah model yang disarankan untuk pembelajaran online dalam pendidikan dibahas.

(17). The influence of system characteristics on e-learning use. Computers & Education v. 47 no. 2 p. 222- 4.September 2006.

The benefits of an e-learning system will not be maximized unless learners use the system. This study proposed and tested alternative models that seek to explain student intention to use an e-learning system when the system is used as a supplementary learning tool within a traditional class or a stand-alone distance education method. The models integrated determinants from the well-established technology acceptance model as well as system and participant characteristics cited in the research literature. Following a demonstration and use phase of the e-learning system, data were collected from 259 college students. Structural equation modeling provided better support for a model that hypothesized stronger effects of system characteristics on e-learning system use. Implications for both researchers and practitioners are discussed.

Komentar
Manfaat dari sistem e-learning tidak akan maksimal kecuali jika peserta didik menggunakan sistem. Penelitian ini diusulkan dan diuji model-model alternatif yang berusaha untuk menjelaskan niat siswa untuk menggunakan sistem e-learning ketika sistem digunakan sebagai alat pelengkap belajar dalam kelas tradisional atau yang berdiri sendiri metode pendidikan jarak jauh. Model terintegrasi penentu dari model penerimaan teknologi mapan serta karakteristik sistem dan peserta dikutip dalam literatur penelitian. Setelah fase demonstrasi dan penggunaan sistem e-learning, data yang dikumpulkan dari 259 mahasiswa. Pemodelan persamaan struktural memberikan dukungan yang lebih baik untuk model yang hipotesis efek kuat dari karakteristik sistem pada e-learning menggunakan sistem. Implikasi untuk kedua peneliti dan praktisi yang dibahas.

(18). Margaret Wallace. An investigation into copyright concerns as a barrier to the widespread development of e-learning practice within Scottish further education colleges. Information & Communications Technology Law 15:79-119 no. 1 2006.

The article highlights the need for a strategic approach to e-Learning development with clear guidance information available to all. Electronic learning has the potential to transform the way teaching is both designed and delivered. Government at local, national and international levels have heralded the advent of e-Learning as a positive contribution towards the achievement of a wider lifelong learning agenda. In actuality, the adoption of online learning practices by public education providers has been much slower than anticipated. Frustrated by limited progress to date, educational agencies have recently sought to identify major factors impinging development. Variables such as access to technology, adequate funding strategies and increased awareness of initiatives at senior level within educational institutions have all become the focus of further research. The issues of cultural change among academic communities and reengineering of operational procedures within schools, colleges and universities can be seen as the key determinants of successful widespread adoption and development of e-Learning practice. This article reports the findings of research carried out within the Scottish further education community. The primary research conducted investigated academics' copyright concerns as a barrier to the widespread adoption of e-Learning practice. The study surveyed Scottish further education academic staff regarding levels of usage of existing e-Learning environments and found copyright concerns to be the legal area of most concern, even greater than data protection or freedom of information. Copyright was the most frequent area of request for legal awareness training among teaching practitioners. The survey and report takes account of major initiatives in e-Learning development including JISC studies, funding council reports  and governmental strategic planning. Detailed consideration of the impact of these initiatives form a major part of the secondary research along with an analysis of staff development support to date. A need for coherent training and guidance focused on practitioners' needs was highlighted by the research. Reflections were that this had not yet been made available in a form recognized by the practitioners. Following the adoption of the European Union Copyright Directive into British law in 2003, the exemptions afforded to education have been radically altered. The article also contains an in-depth analysis of these changes and a review of existing literature on the subject.

Komentar
Artikel ini menyoroti perlunya pendekatan strategis untuk pengembangan e-Learning dengan informasi panduan yang jelas tersedia untuk semua. Pembelajaran elektronik memiliki potensi untuk mengubah cara mengajar adalah baik dirancang dan disampaikan. Pemerintah di tingkat lokal, nasional dan internasional telah digembar-gemborkan munculnya e-Learning sebagai kontribusi positif terhadap pencapaian belajar agenda yang lebih luas seumur hidup. Pada kenyataannya, penerapan praktik belajar online oleh penyedia pendidikan publik telah jauh lebih lambat daripada yang diantisipasi. Frustrasi oleh kemajuan terbatas sampai saat ini, lembaga pendidikan baru-baru ini berusaha untuk mengidentifikasi faktor utama menimpa pembangunan. Variabel seperti akses ke teknologi, strategi pendanaan yang memadai dan kesadaran peningkatan inisiatif di tingkat senior dalam lembaga-lembaga pendidikan memiliki semua menjadi fokus penelitian lebih lanjut. Isu perubahan budaya di kalangan masyarakat akademik dan rekayasa ulang prosedur operasional dalam sekolah-sekolah, perguruan tinggi dan universitas dapat dilihat sebagai kunci penentu adopsi sukses dan pengembangan e-Learning praktek. Artikel ini melaporkan temuan dari penelitian yang dilakukan dalam komunitas pendidikan Skotlandia lebih lanjut. Penelitian utama yang dilakukan menyangkut hak cipta akademisi diselidiki 'sebagai penghalang bagi adopsi e-Learning praktek. Penelitian ini disurvei staf pendidikan akademik Skotlandia lanjut mengenai tingkat penggunaan yang ada lingkungan e-Learning dan menemukan masalah hak cipta menjadi daerah hukum paling memprihatinkan, bahkan lebih besar dari perlindungan data atau kebebasan informasi. Hak cipta adalah daerah yang paling sering permintaan untuk pelatihan kesadaran hukum di kalangan praktisi pengajaran. Survei dan laporan mempertimbangkan inisiatif utama dalam pengembangan e-Learning termasuk studi JISC, dewan pendanaan laporan dan perencanaan strategis pemerintah. Pertimbangan yang rinci tentang dampak dari inisiatif ini membentuk bagian utama dari penelitian sekunder bersama dengan analisis dukungan pengembangan staf to-date. Sebuah kebutuhan untuk pelatihan yang koheren dan bimbingan berfokus pada kebutuhan praktisi 'yang disorot oleh penelitian. Refleksi adalah bahwa ini belum tersedia dalam bentuk diakui oleh praktisi. Setelah adopsi Copyright Directive Uni Eropa ke dalam hukum Inggris pada tahun 2003, pengecualian-pengecualian yang diberikan kepada pendidikan telah berubah secara radikal. Artikel tersebut juga berisi analisis mendalam dari perubahan ini dan tinjauan literatur yang ada pada subjek.

Selasa, 06 Desember 2011

Tinjauan Filsafat & Filsafat Ilmu

I.   Pendahuluan
Filsafat seringkali disebut oleh sejumlah pakar sebagai induk semang dari ilmu-ilmu Filsafat merupakan disiplin ilmu yang berusaha untuk menunjukkan batas-batas dan ruang lingkup pengetahuan manusia secara tepat dan lebih memadai.  Filsafat telah mengantarkan pada sebuah fenomena adanya siklus pengetahuan sehingga membentuk sebuah konfigurasi dengan menunjukkan bagaimana “pohon ilmu pengetahuan” telah tumbuh mekar-bercabang secara subur sebagai sebuah fenomena kemanusiaan. Masing-masing cabang pada tahap selanjutnya melepaskan diri dari batang filsafatnya, berkembang mandiri dan masing-masing mengikuti metodologinya  sendiri-sendiri.
Perkembangan ilmu pengetahuan semakin lama semakin maju dengan munculnya ilmu-ilmu baru dengan berbagai disiplin yang akhirnya memunculkan pula sub-sub ilmu pengetahuan baru kearah ilmu pengetahuan yang lebih khusus lagi seperti spesialisasi-spesialisasi. Ilmu pengetahuan hakekatnya dapat dilihat sebagai suatu sistem yang jalin-menjalin dan taat asas (konsisten) dari ungkapan-ungkapan yang sifat benar-tidaknya dapat ditentukan dengan patokan-patokan serta tolok ukur yang mendasari kebenaran masing-masing bidang.
Dalam kajian sejarah dapat dijelaskan bahwa perjalanan manusia telah mengantarkan dalam berbagai fase kehidupan. Sejak zaman kuno, pertengahan dan modern sekarang ini telah melahirkan sebuah cara pandang terhadap gejala alam dengan berbagai variasinya. Proses perkembangan dari berbagai fase kehidupan primitip–klasik dan  kuno menuju manusia modern telah melahirkan lompatan pergeseran yang sangat signifikan pada masing-masing zaman. Disinilah pemikiran filosofis telah mengantarkan umat manusia dari mitologi oriented pada satu arah menuju pola pikir ilmiah ariented, perubahan dari pola pikir mitosentris ke logosentris dalam berbagai segmentasi kehidupan.
Corak dari pemikiran bersifat mitologis (keteranganya didasarkan atas mitos dan kepercayaan saja) terjadi pada dekade awal sejarah manusia. Namun setelah adanya demitologisasi oleh para pemikir alam seperti Thales (624-548 SM), Anaximenes (590-528 SM), Phitagoras (532 SM), Heraklitos (535-475 SM), Parminides (540-475 SM) serta banyak lagi pemikir lainnya, maka pemikiran filsafat berkembang secara cepat kearah kemegahanya diikuti oleh proses  demitologisasi menuju gerakan logosentrisme. Demitologisasi tersebut disebabkan oleh arus besar gerakan rasionalisme, empirisme dan positivisme yang dipelopori oleh para pakar dan pemikir  kontemporer yang akhirnya mengantarkan kehidupan  manusia pada tataran era modernitas yang berbasis pada pengetahuan ilmiah.
Pengetahuan ilmiah atau ilmu merupakan “a higher level of knowledge”, maka lahirlah filsafat ilmu sebagai penerusan pengembangan filsafat umum. Filsafat ilmu sebagai cabang filsafat menempatkan objek sasarannya Ilmu (Pengetahuan). Permasalahan yang akan kita jelajahi dalam penulisan makalah ini difokuskan pada pembahasan tentang: “Filsafat dan Filsafat Ilmu Sebagai upaya konseptualisasi dan identifikasi”. Disini dipaparkan deskripsi awal tentang sejumlah kajian yang menyangkut tentang subbab-subbab yakni : Pengertian Filsafat, Definisi filsafat ilmu, Obyek material dan formal filsafat ilmu, Lingkup filsafat ilmu dan subsatnsi permasalahan problem – problem filsafat ilmu

II. Pengertian Filsafat
Problem identifikasi  untuk memberikan pengertian dalam  khazanah intelektual seringkali melahirkan perdebatan-perdebatan yang cukup rumit dan melelahkan. Hampir dalam setiap diskusi berbagai ilmu seringkali terdapat penjelasan – penjelasan pengertian yang  tidak jarang  memunculkan  pengertian-pengertian yang beragam. Keberagaman pengertian ini disebabkan berbagai  arah sudut pandang dan focus yang berbeda-beda diantara para pakar dalam memberikan identifikasi. Dan ini merupakan sebuah kemakluman sebab kajian ilmu adalah kajian abstraksi konseptual maka sangat dimungkinkan masing-masing  subyek (para pemikir ) memiliki perbedaan dalam menggunakan paradigma identifikasinya atau proses menemukan makna dalam sebuah kajian keilmuan. Peradigma tersebut akan menjadi acuan bagi pemikir untuk menentukan sebuah tolok ukur kebenaran dari asumsi-asumsi pembentuk dari konsepnya tersebut. Termasuk dalam persoalan ini adalah apakah yang dimaksud dengan filsafat? Berbagai jawaban yang sangat beragam dapat ditemukan dalam berbagai literatur.

Arti bahasa
Kata falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Arab, yang juga diambil dari bahasa Yunani; Φιλοσοφία philosophia.  Dalam bahasa ini, kata ini merupakan kata majemuk dan berasal dari kata-kata philia (= persahabatan, cinta dsb.) dan sophia (= “kebijaksanaan”). Sehingga arti lughowinya (semantic) adalah seorang “pencinta kebijaksanaan” atau “ilmu”.  Sejajar dengan kata filsafat, kata filosofi juga dikenal di Indonesia dalam maknanya yang cukup luas dan sering digunakan oleh semua kalangan..
Ada juga yang  mengurainya dengan kata philare atau philo yang berarti cinta dalam arti yang luas yaitu “ingin” dan karena itu lalu berusaha untuk mencapai yang diinginkan itu. Kemudian dirangkai dengan kata Sophia artinya kebijakan, pandai dan pengertian yang mendalam. Dengan mengacu pada konsepsi ini maka dipahami bahwa filsafat dapat diartikan sebagai sebuah perwujudan dari keinginan untuk mencapai pandai dan cinta pada kabijakan.
Seseorang yang mendalami bidang falsafah disebut “filsuf”. Definisi kata filsafat bisa dikatakan merupakan sebuah problem falsafi pula. Tetapi, paling tidak bisa dikatakan bahwa “filsafat” adalah studi yang mempelajari seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis , mendeteksi  problem secara radikal, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu, serta akhir dari proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah proses kerja ilmiah.
Berkaitan dengan konsep filsafat Harun Nasution tanpa keraguan memberikan satu penegasan bahwa filsafat dalam khazanah islam menggunakan rujukan kata yakni falsafah.Istilah filsafat berasal dari bahasa arab oleh karena orang arab lebih dulu datang dan sekaligus mempengaruhi bahasa Indonesia dibanding dengan bahasa- bahasa lain ke tanah air Indonesia.  Oleh karenanya konsistensi yang patut dibangun adalah penyebutan filsafat  dengan kata falsafat.
Pada sisi yang lain kajian filsafat dalam wacana muslim juga sering menggunakan kalimat padanan Hikmah sehingga ilmu filsafat dipadankan dengan ilmu hikmah. Hikmah  digunakan sebagai bentuk ungkapan untuk menyebut makna kearifan, kebijaksanaan. sehingga dalam berbagai literature kitab-kitab klasik dikatakan bahwa orang yang ahli kearifan disebut Hukama’. Seringkali pula  ketika dikaji dalam berbagai literature kitab-kitab pesantren muncul ungkapan-ungkapan dalam sebuah tema  dengan konsep yang dalam bahasa arabnya misalnya kalimat ‘wa qala min ba’di al hukama….”. dan juga sejajar dengan kata al-hakim yang mengandung arti bijaksana. Misalnya ayat  yang berbunyi, artinya :
 mereka menjawab: "Maha suci Engkau, tidak ada yang Kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana [al baqarah 2: 32]."

serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmahdan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.(An Nahl:125)

Dalam terjemahan Depag ditafsiri bahwa Hikmah ialah Perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil. Sementara  Al Jurjani –sebagaimana dikutip oleh Amsal Bakhtiar—memberikan penjelasan tentang hikmah, yaitu  ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang ada menurut kadar kemampuan manusia.
Perkataan filsafat dalam bahasa Inggris digunakan istilah philosophy yang juga berarti filsafat yang lazim diterjemahkan sebagai cinta kearifan. Unsur pembentuk kata ini adalah kata philos dan sophos. Philos maknanya gemar atau cinta dan sophos artinya bijaksana atau arif (wise). Menurut pengertiannya yang semula dari zaman Yunani Kuno itu filsafat berarti cinta kearifan. Namun, cakupan pengertian sophia ternyata luas sekali,sophia tidak hanya berarti kearifan saja, melainkan meliputi pula kebenaran pertama, pengetahuan luas, kebajikan intelektual, pertimbangan sehat sampai kepandaian pengrajin dan bahkan kecerdikkan dalam memutuskan soal-soal praktis yang bertumpu pangkal pada konsep-konsep aktivitas –aktivitas awal yang disebut pseudoilmiah dalam kajian ilmu.
Secara lughowi (semantic) filsafat berarti cinta kebijaksanaan dam kebenaran. Maksud sebenarnya adalah pengetahuan tentang ada dari kenyataan-kenyataan yang paling umum dan kaidah-kaidah realitas serta hakekat manusia dalam segala aspek perilakunya seperti: logika, etika, estetika dan teori pengetahuan. Maka problem pengertian filsafat dalam hakekatnya memang merupakan problem falsafi  yang kaya dengan banyak  konsep dan pengertian.

Arti istilah
Sejumlah literatur mengungkapkan, orang yang pertama memakai istilah philosophia dan philosophos ialah Pytagoras (592-497 S.M.), yakni seorang ahli matematika yang kini lebih terkenal dengan dalilnya dalam geometri yang menetapkan a2 + b2 = c2. Pytagoras menganggap dirinya “philosophos” (pencinta kearifan). Baginya kearifan yang sesungguhnya hanyalah dimiliki semata-mata oleh Tuhan. Kemudian, orang yang oleh para penulis sejarah filsafat diakui sebagai Bapak Filsafat ialah Thales (640-546 S.M.). Ia merupakan seorang Filsuf yang mendirikan aliran filsafat alam semesta atau kosmos dalam perkataan Yunani. Menurut aliran filsafat kosmos, filsafat adalah suatu penelaahan terhadap alam semesta untuk mengetahui asal mulanya, unsur-unsurnya dan kaidah-kaidahnya.
Menurut sejarah kelahirannya istilah filsafat terwujud sebagai sikap yang ditauladankan oleh Socrates. Yaitu sikap seorang yang cinta kebijaksanaan yang mendorong pikiran seseorang untuk terus menerus maju dan mencari kepuasan pikiran, tidak merasa dirinya ahli, tidak menyerah kepada kemalasan, terus menerus mengembangkan penalarannya untuk mendapatkan kebenaran.
Timbulnya filsafat karena manusia merasa kagum dan merasa heran. Pada tahap awalnya kekaguman atau keheranan itu terarah pada gejala-gejala alam. Dalam perkembangan lebih lanjut, karena persoalan manusia makin kompleks. Sekalipun bertanya tentang seluruh realitas, filsafat selalu bersifat "filsafat tentang" sesuatu: tentang manusia, tentang alam, tentang tuhan (akhirat), tentang kebudayaan, kesenian, bahasa, hukum, agama, sejarah, dsb..  Semua selalu dikembalikan ke empat bidang induk: Pertama, filsafat tentang pengetahuan; obyek materialnya,: pengetahuan ("episteme") dan kebenaran, epistemologi; logika; dan kritik ilmu-ilmu; Kedua, filsafat tentang seluruh keseluruhan kenyataan, obyek materialnya: eksistensi (keberadaan) dan esensi (hakekat), metafisika umum (ontologi); metafisika khusus: antropologi (tentang manusia); kosmologi (tentang alam semesta); teologi (tentang tuhan); Ketiga  filsafat tentang nilai-nilai yang terdapat dalam sebuah tindakan: obyek material : kebaikan dan keindahan,etika; dan     estetika; Keempat . sejarah filsafat; menyangkut dimensi ruang dan waktu dalam sebuah kajian.
Jika dikelompokkan secara kerakterisitik cara pendekatannya, dalam filsafat dikenal ada banyak aliran filsafat.  Ciri pemikiran filsafat mengacu pada tiga konsep pokok yakni persoalan filsafat bercorak sangat umum, persoalan filsafat tidak bersifat empiris, dan menyangkut masalah-masalah asasi. Kemudian Kattsoff menyatakan karakteristik filsafat  dapat diidentifikasi sebagai berikut.
1)  Filsafat adalah berpikir secara kritis.
2)  Filsafat adalah berpikir dalam bentuknya yang sistematis.
3)  Filsafat menghasilkan sesuatu yang runtut.
4)  Filsafat adalah berpikir secara rasional.
5)  Filsafat bersifat komprehensif.
Jadi berfikir filsafat mengandung makna berfikir tentang segala sesuatu yang ada secara kritis, sistematis,tertib,rasional dan komprehensip

III.  Definisi Filsafat Ilmu

Rosenberg menulis “ Philosophy deals with two sets of questions: First, the questions that science – physical, biological, social, behavioral –. Second, the questions about why the sciences cannot answer the first lot of questions”. Dikatakan bahwa  filsafat dibagi  dalam dua buah pertanyaan utama, pertanyaan pertama adalah persoalan tentang ilmu (fisika,biologi, social dan budaya) dan yang kedua adalah persoalan tentang duduk perkara ilmu  yang itu tidak terjawab pada persoalan yang pertama. Dari narasi ini ada dua buah konsep filsafat yang senantiasa dipertanyakan yakni tentang apa dan bagaimana. Apa itu ilmu dan bagaimana ilmu itu disusun dan dikembangkan. Ini hal sangat mendasar dalam kajian dan diskusi ilmiah dan ilmu pengetahuan pada umumnya.yang satu terjawab oleh filsafat dan yang kedua dijawab oleh kajian filsafat ilmu.
Beberapa penjelasan mengenai filsafat tentang  pengetahuan.  Dipertanyakanlah hal-hal misalnya : Apa itu pengetahuan?  Dari mana asalnya?  Apa ada kepastian dalam pengetahuan, atau semua hanya hipotesis atau dugaan belaka? Teori pengetahuan menjadi inti diskusi, apa hakekat pengetahuan, apa unsur-unsur pembentuk pengetahuan, bagaimana menyusun dan mengelompokkan pengetahuan, apa batas-batas pengetahuan, dan juga apa saja yang menjadi sasaran dari ilmu pengetahuan. Disinilah filsafat ilmu memfokuskan kajian dan telaahnya.  Yakni pada sebuah kerangka konseptual yang menyangkut  sebuah system pengetahuan yang di dalamnya terdapat  hubungan relasional antara, pengetahu /yang mengetahui (the Knower) dan yang  terketahui /yang diketahui (the known) dan juga antara pengamat (the observer)  dengan yang diamati (the observed).
Pengertian-pengertian tentang filsafat ilmu, telah banyak dijumpai dalam berbagai buku maupun karangan ilmiah. Filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan-persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia. Filsafat ilmu merupakan suatu bidang pengetahuan integrative yang eksistensi dan pemekarannya bergantung pada hubungan timbal-balik dan saling-pengaruh antara filsafat dan ilmu.
Filsafat ilmu merupakan penerusan pengembangan filsafat pengetahuan. Objek dari filsafat ilmu adalah ilmu pengetahuan. Oleh karena itu setiap saat ilmu itu berubah mengikuti perkembangan zaman dan keadaan. Pengetahuan lama menjadi pijakan untuk mencari pengetahuan baru. I
Untuk memahami arti dan makna filsafat ilmu, di bawah ini dikemukakan pengertian filsafat ilmu dari beberapa ahli yang terangkum dalam  sejumlah literatur kajian Filsafat Ilmu.
•    Robert Ackerman “philosophy of science in one aspect as a critique of current scientific opinions by comparison to proven past views, but such aphilosophy of science is clearly not a discipline autonomous of actual scientific paractice”. (Filsafat ilmu dalam suatu segi adalah suatu tinjauan kritis tentang pendapat-pendapat ilmiah dewasa ini dengan perbandingan terhadap kriteria-kriteria yang dikembangkan dari pendapat-pendapat demikian itu, tetapi filsafat ilmu jelas bukan suatu kemandirian cabang ilmu dari praktek ilmiah secara aktual.
•    Lewis White Beck “Philosophy of science questions and evaluates the methods of scientific thinking and tries to determine the value and significance of scientific enterprise as a whole. (Filsafat ilmu membahas dan mengevaluasi metode-metode pemikiran ilmiah serta mencoba menemukan dan pentingnya upaya ilmiah sebagai suatu keseluruhan)
•    Cornelius Benjamin “That philosopic disipline which is the systematic study of the nature of science, especially of its methods, its concepts and presuppositions, and its place in the general scheme of intellectual discipines. (Cabang pengetahuan filsafati yang merupakan telaah sistematis mengenai ilmu, khususnya metode-metodenya, konsep-konsepnya dan praanggapan-praanggapan, serta letaknya dalam kerangka umum cabang-cabang pengetahuan intelektual.)
•    Michael V. Berry “The study of the inner logic if scientific theories, and the relations between experiment and theory, i.e. of scientific methods”. (Penelaahan tentang logika interen dari teori-teori ilmiah dan hubungan-hubungan antara percobaan dan teori, yakni tentang metode ilmiah.)
•    May Brodbeck “Philosophy of science is the ethically and philosophically neutral analysis, description, and clarifications of science.” (Analisis yang netral secara etis dan filsafati, pelukisan dan penjelasan mengenai landasan – landasan ilmu.
•    Peter Caws “Philosophy of science is a part of philosophy, which attempts to do for science what philosophy in general does for the whole of human experience. Philosophy does two sorts of thing: on the other hand, it constructs theories about man and the universe, and offers them as grounds for belief and action; on the other, it examines critically everything that may be offered as a ground for belief or action, including its own theories, with a view to the elimination of inconsistency and error. (Filsafat ilmu merupakan suatu bagian filsafat, yang mencoba berbuat bagi ilmu apa yang filsafat seumumnya melakukan pada seluruh pengalaman manusia. Filsafat melakukan dua macam hal : di satu pihak, ini membangun teori-teori tentang manusia dan alam semesta, dan menyajikannya sebagai landasan-landasan bagi keyakinan dan tindakan; di lain pihak, filsafat memeriksa secara kritis segala hal yang dapat disajikan sebagai suatu landasan bagi keyakinan atau tindakan, termasuk teori-teorinya sendiri, dengan harapan pada penghapusan ketakajegan dan kesalahan
•    Stephen R. Toulmin “As a discipline, the philosophy of science attempts, first, to elucidate the elements involved in the process of scientific inquiry observational procedures, patens of argument, methods of representation and calculation, metaphysical presuppositions, and so on and then to veluate the grounds of their validity from the points of view of formal logic, practical methodology and metaphysics”. (Sebagai suatu cabang ilmu, filsafat ilmu mencoba pertama-tama menjelaskan unsur-unsur yang terlibat dalam proses penyelidikan ilmiah prosedur-prosedur pengamatan, pola-pola perbincangan, metode-metode penggantian dan perhitungan, pra-anggapan-pra-anggapan metafisis, dan seterusnya dan selanjutnya menilai landasan-landasan bagi kesalahannya dari sudut-sudut tinjauan logika formal, metodologi praktis, dan metafisika).
Dari paparan pendapat para pakar dapat disimpulkan  bahwa pengertian filsafat ilmu itu mengandung konsepsi dasar yang mencakup hal-hal sebagai berikut:
1)    sikap kritis dan evaluatif terhadap kriteria-kriteria ilmiah
2)    sikap sitematis berpangkal pada metode ilmiah
3)    sikap analisis obyektif, etis dan falsafi atas landasan ilmiah
4)    sikap konsisten dalam bangunan teori serta tindakan  ilmiah
Selanjutnya John Losee dalam bukunya yang berjudul,A Historical Introduction to the Philosophy of Science, Fourth edition,  mengungkapkan bahwa :  The philosopher of science seeks answers to such questions as:
•    What characteristics distinguish scientific inquiry from other types of investigation?
•    What procedures should scientists follow in investigating nature?
•    What conditions must be satisfied for a scientific explanation to be correct?
•    What is the cognitive status of scientific laws and principles?

Dari ungkapan tersebut terdapat sebuah konsep bahwa tugas dari pemikir filsafat ilmu itu  untuk menjawab dan menyelesaikan persoalan persoalan yang menyangkut: pertama, apa yang menjadi perbedaaan ilmiah karakteristik type masing – masing ilmu ntara satu ilmu dengan ilmu lainnya  melalu penelitian. Kedua  Prosedur apa yang harus dilakukan secara ilmiah dalam melakukan penelitian atas kenyataan yang terjadi di alam?, Ketiga apa yang  mestinya  dilakukan dalam mendapatkan penjelasan ilmiah  untuk melakukan penelitian dan eksperimen itu ? Dan keempat  apakah teori itu dapat diambil sebagai konsep dan prinsip-prinsip ilmiah?.
Sehingga sketsa filsafat ilmu dapat di gambarkan dalam statement sebagai berikut:
Level ---------->   Disciplin  ------------->  Subject-matter
2 ------------->  Philosophy of Science .->   Analysis of the Procedures and Logic of Scientific Explanation
1    ----------->  Science    -------------->   Explanation of Facts
0   -------------------------->     Facts

Dengan memperhatikan tabel diatas secara jelas ditampilkan bahwa filsafat ilmu menempati level ke-2 sedangkan ilmu (science) pada level pertama dan semuanya pada satu pangkal pokok yakni fakta (kenyataan) menjadi basis utama bangunan segala disiplin ilmu. Kalau ilmu itu menjelaskan Fakta sementara filsafat ilmu itu subyek materinya adalah menganalisa prosedur-prosedur logis dari ilmu (Analysis of the Procedures and Logic of Scientific Explanation).

Jumat, 02 Desember 2011

Anotasi Bibliografi Multimedia Pembelajaran


 (1).     Ioannou,A., Brown, S.W., Hannafin, R.D., Boyer,M.A., (2009). Can Multimedia Make Kids Care About Social Studies? The GlobalEd Problem-Based Learning Simulation. Vol. 26 Issue 1, p63-81. ISSN: 07380569

            This study investigated whether using multimedia-based instructional material in a problem-based social studies simulation enhances student learning about world issues, increases interest in social studies, and generates positive attitudes toward the instruction. The GlobalEd Project, a Web-based international negotiation simulation embedded in the middle school social studies curriculum, was used in this investigation. The study employed a quasi-experimental design with a multimedia group (MG) and a text group (TG). A total of 190 students participated in the study. Results indicated that students in the MG had marginally larger gains in knowledge and interest than their counterparts in the TG. In addition, students in the MG used the Web site more extensively than students in the TG. Directions for future research and multimedia developers are discussed
Komentar
Penelitian ini menyelidiki apakah menggunakan multimedia berbasis bahan instruksional dalam simulasi penelitian berbasis masalah sosial meningkatkan minat siswa tentang isu-isu dunia, meningkatkan minat dalam studi sosial, dan menghasilkan sikap positif terhadap pembelajaran. Penelitian ini digunakan desain kuasi-eksperimental dengan kelompok multimedia (MG) dan kelompok teks (TG). Sebanyak 190 siswa berpartisipasi dalam studi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa di MG pengetahuan dan minat lebih tinggi dibandingkan siswa pada kelompok TG.

(2). Kingsley, K. V. & Boone, R. (2008-09).  Effects of multimedia software on achievement of middle school students in an American History class.  Journal of Research on Technology in Education, 41 (2), 203-221.

Shares implementation and results of an experimental study that included a treatment and control group of students using multimedia software in American History class vs. students who did not use the software.

Komentar                                                                       
Implementasi dan hasil dari sebuah studi ekperimental yang menyangkut pemberian perlakuan dan kelompok kontrol dari penggunaan perangkat lunak multimedia oleh siswa pada kelas Sejarah Amerika dibandingkan siswa yang tidak menggunakan perangkat lunak. 


(3). Mengchun Ding & Hongxin Li. (2011). On the Application of Multimedia in Economics Teaching. International Education Studies. www.ccsenet.org/ies, 4(3), 88-90, ISSN 1913-9020.

Multimedia has become an important teaching technology in higher education inside and outside, with its advantages of super-media, strong expression, and interaction. The application of multimedia teaching connects closely with teaching reform and innovation. In this paper, authors conclude the defects of traditional economics teaching and the advantages of multimedia teaching, and put forward some practical measures for improving economics teaching effects by means of multimedia.

Komentar                                                                       
Multimedia telah menjadi teknologi pengajaran penting dalam pendidikan tinggi dalam dan luar negeri, dengan keuntungan super-media, ekspresi yang kuat, dan interaksi. Penerapan pengajaran multimedia menghubungkan
erat dengan reformasi pengajaran dan inovasi. Dalam makalah ini, penulis menyimpulkan cacat pengajaran ekonomi tradisional dan keuntungan dari pengajaran secara multimedia, dan mengajukan beberapa langkah-langkah praktis untuk meningkatkan pengaruh pengajaran ekonomi mengajar melalui multimedia.

(4). Brush, T.A., Saye, J.W.  (2001). A Summary of Research Exploring Hard and Soft caffolding for Teachers and Students Using a Multimedia Supported Learning Environment. The journal of Interactive Online Learning. 1(2), 1-12. ISSN : 1541-4914.

This experiment with ideas about how soft and hard scaffolding may be used to support disciplined inquiry in social studies, we developed Decision Point! (DP), an integrated set of multimedia content resources and tools for exploring the African-American Civil Rights Movement of the 1950s and 60s (Brush & Saye, 2000; Saye & Brush, 1999). The DP environment provides multimedia civil rights content resources in an interactive hypermedia database and scaffolding tools for identifying, collecting, and analyzing historical information. The database features primary print documents, period news footage, interviews, and music. All data are organized into three strands representing primary change strategies: working within the legal system, nonviolent protest, and black power.
The structure of the DP database provides conceptual scaffolds to help students organize and connect evidence within the broader dimensions of the problem landscape. Events are associated with particular change strategies and primary documents are associated with particular events. Within events, evidence is grouped by document type with the expectation that such categorization will help students consider the source of the evidence. Contextual data retrieval charts associated with each event provide more specific strategic scaffolds by helping students to ask more expert questions of historical evidence. A presentation construction tool provides procedural and strategic support to help students use evidence to author more reasoned problem narratives.

Komentar                                                                       
  Eksperimen ini dengan ide-ide tentang bagaimana perangkat lunak dan keras dapat digunakan untuk mendukung Inqui dalam penelitian sosial, kami mengembangkan Titik Keputusan! (DP), satu set multimedia isi dan alat untuk menjelajahi Afrika-Amerika Gerakan Hak Sipil tahun 1950-an dan 60-an (Brush & Saye, 2000; Saye & Brush, 1999). Lingkungan DP menyediakan sumber daya multimedia hak-hak sipil konten dalam sebuah database dan perancah hypermedia interaktif alat untuk mengidentifikasi, mengumpulkan, dan menganalisis informasi sejarah. Database fitur mencetak dokumen primer, periode cuplikan berita, wawancara, dan musik. Semua data tersebut akan disusun dalam tiga helai mewakili strategi perubahan utama: bekerja dalam sistem hukum, protes tanpa kekerasan, dan kekuatan hitam.
      Struktur dari database DP menyediakan perancah konseptual untuk membantu siswa mengatur dan menghubungkan bukti dalam dimensi yang lebih luas dari  masalah. Hal yang terkait dengan strategi perubahan tertentu dan dokumen primer dikaitkan dengan peristiwa tertentu. Dalam peristiwa, bukti dikelompokkan menurut jenis dokumen dengan harapan bahwa kategorisasi tersebut akan membantu siswa mempertimbangkan sumber bukti. Grafik kontekstual pengambilan data yang terkait dengan acara masing-masing memberikan perancah strategis yang lebih spesifik dengan membantu siswa untuk mengajukan pertanyaan lebih ahli bukti sejarah. Sebuah alat konstruksi presentasi menyediakan dukungan prosedural dan strategis untuk membantu siswa menggunakan bukti untuk cerita masalah penulis yang lebih beralasan.


(5). Ramos,P.H, Susan, D.L., (2009). Learning History in Middle School by Designing Multimedia in a Project-Based Learning Experience. Journal of Research on Technology in Education JRTE, 42(2), 151–173

This article describes a study in which eighth grade students in one school learned to create multimedia mini-documentaries in a six-week history unit on early 19th-century U.S. history. The authors examined content knowledge tests, group projects, and attitude and opinion surveys to determine relative benefits for students who participated in a technology-assisted project-based learning experience, and contrasted their experiences to those of students who received a more traditional form of instruction. Results from content knowledge measures showed significant gains for students in the project-based learning condition as compared to students in the comparison school. Students’ work in the intervention condition also revealed growth in their historical thinking skills, as many were able to grasp a fundamental understanding that history is more than presenting facts. Implications and suggestions for technology-enhanced project-based learning experiences are indicated.

Komentar                                                                       
Artikel ini menggambarkan sebuah studi di mana siswa kelas delapan di salah satu sekolah belajar membuat multimedia mini dokumenter sebuah unit sejarah enam minggu pada awal abad ke-19 sejarah AS. Para penulis memeriksa tes pengetahuan, proyek, kelompok, dan sikap dan survei pendapat untuk menentukan manfaat bagi siswa yang berpartisipasi dalam pengalaman teknologi dibantu pembelajaran berbasis proyek berdasarkan pengalaman belajar, dan dikontraskan pengalaman mereka kepada siswa pada pembelajaran tradisional. Hasil dari penilaian pengetahuan menunjukkan perbedaan yang signifikan pada siswa yang belajar berbasis proyek dibandingkan dengan siswa di sekolah perbandingan. Karya siswa dalam kondisi intervensi juga menunukkan perkembangan berpikir sejarah, karena banyak orang dapat memahami pemahaman mendasar bahwa sejarah lebih dari fakta presentasi.

(6). Kingsley, K.V, Boone, R., (2008). Effects of multimedia software on achievement of middle school students in an American History class.(Report). Journal of Research on Technology in Education. 41(2), 203-221.
This study investigated social studies achievement as a result of utilizing a multimedia-based American history software program (Ignite Early American History, 2003) to augment textbook and lecture materials for seventh-grade middle school history students in an ethnically and linguistically diverse urban school district. The instructional software used was an interactive multimedia program designed to teach middle school students through video, song, animation, text, and other media to develop critical thinking skills while acquiring knowledge of required content strands (Ignite Learning, 2003). Teacher and student activities, pretest and posttest scores, and instructional methods for experimental and control conditions were documented in order to provide a comprehensive understanding of the results.
Komentar                                                                       
Penelitian ini mengenai pencapaian pembelajaran sosial sebagai hasil dari pemanfaatan multimedia berbasis sejarah lahirnya program perangkat lunak Amerika untuk menambah buku dan bahan pembelajara bagi siswa kelas tujuh sekolah menengah sejarah di distrik sekolah etnis dan beragam bahasa perkotaan. Perangkat lunak pembelajaran yang digunakan adalah program multimedia interaktif yang dirancang untuk mengajar siswa sekolah menengah melalui video, lagu teks, animasi, dan media lainnya untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis ketika memperoleh pengetahuan. Aktivitas guru dan siswa, skor pretest dan posttest, dan metode pembelajaran untuk kelas eksperimen dan kontrol didokumentasikan dalam rangka untuk memberikan hasil pemahaman yang komprehensif.


(7).  Moore, H.A, Pippert, T.D.,(1999). Multiple Perspectives on Multimedia in the Large Lecture. Sociology Department, Faculty Publications. This paper is posted at DigitalCommons@University of Nebraska - Lincoln. http://digitalcommons.unl.edu/sociologyfacpub/148

Sociology instructors should consider adopting more complex computer multimedia in light of balancing interests: (1) resource scarcity in education and (2) few direct demonstrable effects of media on objective measures of student test outcomes in this and other research. However, our participants consistently cite considerable enhancement of students' cognitive skills and motivations (especially note taking and student interest levels), and our instructors endorse the positive effects of multimedia development on the process of reworking and rethinking their course curricula and materials.

Komentar                                                                       
Pengajar Sosiologi  harus mempertimbangkan adopsi multimedia komputer yang lebih kompleks, diantaranya kelangkaan sumber daya dalam pendidikan dan efek media pada penilaian hasil tes siswa. Terdapat peningkatan keterampilan kognitif siswa dan motivasi (catatan khusus mengenai tingkat ketertarikan mahasiswa), dan pengajar mendukung efek positif dari pengembangan multimedia dengan cara memperbaiki dan memikirkan kembali kurikulum dan materi ajar pembelajaran mereka.

(8). Lee, J. Friedman, M., (2009). Research on Technology in Social Studies Education. Research Methods for Educational Technology. Series Editor: Walt Heinecke, University of Virginia.


Despite technology’s presence in virtually every public school, its documented familiarity and use by youth outside of school, and the wealth of resources it provides for teaching social studies, there has been relatively little empirical research on its effectiveness for the teaching and learning of social studies. In an effort to begin to fill this gap in research literature, this book focuses on research on technology in social studies education. The objectives of this volume are threefold: to describe research frameworks, provide examples of empirical research, and chart a course for future research endeavors. Accordingly, the volume is divided into three overarching sections: research constructs and contexts, research reports, and research reviews.

The need for research is particularly acute within the field of social studies and technology. As the primary purpose of social studies is to prepare the young people of today to be the citizens of tomorrow, it is necessary to examine how technology tools impact, improve, and otherwise affect teaching and learning in social studies. Given these circumstances, we have prepared this collection of research conceptualizations, reports, and reviews to achieve three goals.
The book is divided into four sections. The first section of the book includes three descriptions of research constructs and contexts in social studies and technology. The second section is focused on research reports from studies of student learning in social studies with technology. The third section contains research reports on teachers’ pedagogical considerations for using technology in social studies. In the fourth and final section, we present work that broadly reviews and critiques research in focused areas of social studies and technology. This volume contains twelve chapters, each of which focuses on social studies content and pedagogy and how the field is affected and enhanced with technology

Komentar                                                                       
Buku ini berfokus pada penelitian pemanfaatan teknologi dalam pendidikan ilmu sosial. Pada penelitia ini perlu mengkaji bagaimana alat teknologi mempengaruhi, memperbaiki, dan mempengaruhi proses belajar dan mengajar pada pendidikan sosial. Buku ini dibagi menjadi empat bagian. Bagian pertama buku ini mencakup tiga deskripsi rancangan penelitian dan konteks dalam pembelajaran sosial dan teknologi. Bagian kedua difokuskan pada laporan penelitian dari proses belajar siswa dalam penelitian sosial dengan teknologi. Bagian ketiga berisi laporan-laporan penelitian tentang pertimbangan pedagogis guru dalam menggunakan teknologi pada pembelajaran sosial. Bagian keempat berisi ulasan dan kritik penelitian yang  difokuskan pada penelitian sosial dan teknologi.


(9).      Hallett, T.L., Faria, G., (2006). Teaching with Multimedia: Do Bells and Whistles Help Students Learn?. Journal of Technology in Human Services; 2006, Vol. 24 Issue 2/3, p167-179. ISSN: 15228835.

            This study compared 30 undergraduate social work and speech language pathology students' recall of material presented through multimedia versus traditional lecture. Advanced multimedia included audio, video, animation, graphics, text, and special effects. Traditional lecture included a text display in the form of PowerPoint bullets only. Both conditions presented material on the brain and the ear. Quantitative and qualitative results indicated that multimedia presentations had a positive effect on learning. Similar findings were obtained during a follow-up study three weeks later.
Komentar                                                                       
Studi ini membandingkan 30 sarjana sosial dan patologi bahasa pidato siswa tentang materi yang disajikan melalui multimedia dibandingkan kuliah tradisional. Multimedia yang canggih termasuk audio, video, animasi, grafik, teks, dan efek khusus. Kuliah tradisional termasuk menampilkan teks dalam bentuk peluru PowerPoint saja. Kedua kondisi yang disajikan materi pada otak dan telinga. Hasil kuantitatif dan kualitatif menunjukkan bahwa presentasi multimedia memiliki dampak positif pada pembelajaran. Temuan serupa diperoleh selama studi tindak lanjut tiga minggu kemudian.


(10).    Gulbahar, Y., & Guven, I. (2008). A Survey on ICT Usage and the Perceptions of Social Studies Teachers in Turkey. Educational Technology & Society, 11 (3), 37-51.

Turkey has been undertaking many projects to integrate Information and Communication Technology (ICT) sources into practice in the teaching-learning process in educational institutions. This research study sheds light on the use of ICT tools in primary schools in the social studies subject area, by considering various variables which affect the success of the implementation of the use of these tools. A survey was completed by 326 teachers who teach fourth and fifth grade at primary level. The results showed that although teachers are willing to use ICT resources and are aware of the existing potential, they are facing problems in relation to accessibility to ICT resources and lack of in-service training opportunities.

Komentar                                                                       
Turki telah melakukan banyak proyek untuk mengintegrasikan sumber Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam praktek proses belajar-mengajar di lembaga pendidikan. Penelitian ini menyoroti penggunaan alat-alat TIK di sekolah dasar pada studi sosial, dengan mempertimbangkan berbagai variabel yang mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan penggunaan TIK. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun guru bersedia untuk menggunakan sumber daya TIK dan menyadari potensi yang ada, mereka menghadapi masalah dalam kaitannya dengan aksesibilitas terhadap sumber daya TIK dan kurangnya kesempatan pelatihan.


(11).    Hayashi, A., Chen, C., Ryan, T., Jiinpo,W., (2004). The Role of Social Presence and Moderating Role of Computer Self Efficacy in Predicting the Continuance Usage of E-Learning Systems. Journal of Information Systems Education; Jun2004, Vol. 15 Issue 2, p139-154. ISSN: 10553096 .

The continuous growth of the electronic learning (e-learning) market has drawn a lot of discussion about the effectiveness of virtual learning environments (VLE). The initial emphasis of e-learning in the context of information technology skills training continues to be relevant. The success of an e-learning program in information technology (IT) may require users to be equipped with a certain degree of computer self-efficacy and affect for information systems. These factors may, in turn, influence the satisfaction level of online learners and their intention to continue using the e-learning system. Therefore, it is plausible that these factors may be as important as or more important than the design of an effective VLE in an IT context. This paper blends the Computer Self-Efficacy (CSE) and Expectation-Confirmation Models (ECM), and assesses their applicability on the intention of online learners who continue using the e-learning system as a vehicle to assimilate IT skills. Second, it theorizes the causal relationship of the factors of Perceived Usefulness, Confirmation, Satisfaction, and IS Continuance in the e-learning context. Finally, it assesses the relative importance of social presence in helping online learners to prevail over the online asynchronous environment. Our results indicate that, in the context of assimilating IT skills, there is not a significant relationship among the CSE of online learners, their perceived usefulness, confirmation, and satisfaction level. As a moderating factor, computer self-efficacy does not have significant influence on learning outcomes. For knowledge long transfer, social presence was shown to have an effect in different VLEs.

Komentar
Perkembangan pembelajaran elektronik (e-learning) telah menarik banyak diskusi tentang efektivitas lingkungan belajar virtual (VLE). Keberhasilan program e-learning di bidang teknologi informasi (TI) mungkin mengharuskan pengguna memiliki komputer self-efficacy dan keteranpilan sistem informasi. Faktor-faktor ini, pada gilirannya, mempengaruhi tingkat kepuasan peserta didik online dan niat mereka untuk terus menggunakan sistem e-learning. Makalah ini memadukan Self-Efficacy Komputer (CSE) dan Harapan-Konfirmasi Model (ECM), dan menilai penerapannya pada keinginan peserta didik online yang terus menggunakan sistem e-learning sebagai sarana untuk mengasimilasi kemampuan IT. Hubungan kausal faktor teori dari Kegunaan Persepsi, Konfirmasi, Kepuasan, dan IS kelangsungannya dalam konteks e-learning. Pentingnya penilaian relatif dari kehadiran sosial dalam membantu pembelajar online untuk berhasil dalam lingkungan asynchronous online. Hasilnya menunjukkan bahwa, dalam konteks asimilasi kemampuan IT, tidak ada hubungan yang signifikan antara CSE peserta didik secara online, kegunaan yang dirasakan, konfirmasi, dan tingkat kepuasan. Sebagai faktor moderating, komputer self-efficacy tidak memiliki pengaruh signifikan pada hasil belajar. Untuk transfer pengetahuan yang panjang, kehadiran sosial telah menunjukkan efek dalam VLEs berbeda.

(12). Brown, S. P., (2006). Social Studies/Multimedia: Continents. School Library Media Activities Monthly; May2006, Vol. 22 Issue 9, p17-19, 3p.
Presents an educational activity for grades 1-2 students to enhance their knowledge of cultural practices in several continents through the creation of a travel brochure. Information resources that can be used; Roles of teachers and library media specialists in the project; Procedures for the completion of the activity.

Komentar
Menyajikan suatu kegiatan pendidikan untuk siswa kelas 1-2 dalam meningkatkan pengetahuan mereka tentang praktek-praktek budaya di beberapa benua melalui penciptaan sebuah brosur perjalanan. Informasi sumber daya yang dapat digunakan; Peran guru dan perpustakaan media spesialis dalam proyek; Prosedur untuk penyelesaian kegiatan.

(13). New Media Educational Technologies -- Applications for Social Inclusion. Multimedia Information & Technology; May2008, Vol. 34 Issue 2, p61-64, 4p. ISSN: 1466190X

The article aims to share the author's research and development experiences with the broad learning technology research communities. Principally, it aims to disseminate key findings from the ESF EQUAL Equinex project and on the development, piloting and completion of the multimedia-based Addressing Barriers-Enhancing Services series of Equality and Diversity skills development e-training resources. Accordingly, the project served as an engine for innovation in seeking to address the problem of barriers to learning and employment opportunities for disadvantaged groups.

Komentar

Artikel ini mengenai penelitian teknologipembelajaran dari SAMA FEE Equinex dalam pengembangan, uji coba dan pelengkap dari Mengatasi Hambatan Meningkatkan Layanan Kesetaraan dan Keanekaragaman keterampilan pengembangan pelatihan sumber daya berbasis multimedia. Hal ini disajikan sebagai inovasi dalam mencari cara mengatasi masalah hambatan kesempatan belajar dan kerja bagi kelompok yang kurang beruntung.


(14).     Besser, H. (1995). Multimedia and networks teach about museums. Issues in maintaining a WWW site to facilitate distance learning. Selected papers from the Third International Conference on Hypermedia and Interactivity in Museums; 1995, p124-140, 17p.

A wide array of technological resources were employed to teach a course on the impact of multimedia and networks. The course, taught simultaneously at the University of Michigan and the University of California at Berkeley, examined the impact of new technologies from a variety of perspectives (including cultural, political, and social), and focused on that impact upon daily life and upon social and cultural institutions (such as museums, libraries, and schools). Cutting-edge technologies were used to conduct the course in the two sites, and to provide text and multimedia resources to enrolled students and to the general public. This paper reports on the experience of mounting multimedia information on the World Wide Web, both for public consumption and to instruct students in the course. Paying particular attention to methods for making the information stand on its own without the presence of the instructor, the paper outlines a wide variety of issues, including: design concerns, technical limitations, and privacy issues. Concerns of ongoing maintenance of a World Wide Web site are detailed.
           
Komentar
Teknologi dipergunakan untuk mengajar pelajaran sebagai dampak dari multimedia dan jaringan. Dampak dari teknologi baru dari berbagai perspektif (mencakup budaya, politik, dan sosial), dan difokuskn pada dampak kehidupan sehari-hari, sosial dan institusi budaya. Pada artikel ini dilaporkan bahwa sejumlah multimedia informasi seperi World Wide Web, keduanya dapat dijadikan sebagai pembelajaran bagi siswa. 
Sebuah beragam sumber daya teknologi yang dipekerjakan untuk mengajar kursus 1995 tentang dampak multimedia dan jaringan. Kursus ini, diajarkan secara simultan di University of Michigan dan University of California di Berkeley, meneliti dampak dari teknologi baru dari berbagai perspektif (termasuk budaya, politik, dan sosial), dan terfokus pada yang berdampak pada kehidupan sehari-hari dan pada sosial dan budaya institusi (seperti museum, perpustakaan, dan sekolah). Cutting-edge teknologi yang digunakan untuk melakukan kursus di dua lokasi, dan untuk menyediakan sumber daya teks dan multimedia untuk mahasiswa yang terdaftar dan untuk masyarakat umum. Makalah ini melaporkan pengalaman multimedia informasi pemasangan pada World Wide Web, baik untuk konsumsi publik dan untuk menginstruksikan siswa dalam kursus. Membayar perhatian khusus untuk metode untuk membuat informasi berdiri sendiri tanpa kehadiran instruktur, kertas menguraikan berbagai isu, termasuk: masalah desain, keterbatasan teknis, dan masalah privasi. Kekhawatiran pemeliharaan dari situs World Wide Web yang rinci. Prosiding Diterbitkan oleh Archives & Museum Informatika, Amerika Serikat, 1995.

(15). Ramig, Renee., (2009).Social Media in the Classroom. MultiMedia & Internet@Schools; Nov/Dec2009, Vol. 16 Issue 6, p8-10, 3p. ISSN:15464636

The article discusses the benefits of social media use among children, as young as primary age right on to secondary students. It classifies the usage of social media, such as Blogger, Facebook and MySpace, according to various age groups, and provides some guidelines on proper usage and application according to each group. It also presents the benefits of incorporating social media into schools.

Komentar
Artikel ini membahas manfaat dari media sosial yang digunakan di kalangan anak-anak, remaja siswa sekolah pertama. Ini mengklasifikasikan penggunaan media sosial, seperti Blogger, Facebook dan MySpace, menurut berbagai kelompok umur, dan memberikan beberapa panduan tentang penggunaan yang tepat dan aplikasi sesuai dengan masing-masing kelompok. Hal ini juga menyajikan manfaat menggabungkan media sosial ke sekolah-sekolah.

(16). Ricketts, J. Wolfe, F.H. Norvelle, E. Carpenter, E.H. (2000). Multimedia: asynchronous distributed education--a review and case study. Social Science Computer Review; Summer 2000, Vol. 18 Issue 2, p132-146, 15p. ISSN:08944393.

Interest in and delivery of distributed education has increased rapidly in the past decade. Technology brings the promise of creating superior learning environments relative to the traditional classroom as well as delivering these learning experiences to greater numbers and more diverse audiences. However, successful creation and delivery of distributed courses requires new dimensions in thought and creativity, since a direct translation from classroom to computer will not enhance the learning experience. To make distributed education work, instructors must rethink their role as teacher, and students must take charge of their own learning experience. Many accommodations must be made in distributed course creation to ensure a student-centered environment that overcomes the feeling of isolation. Discusses these themes in relation to the authors' experiences in delivering an asynchronous distributed introductory course at the University of Arizona.

Komentar
Teknologi menciptakan lingkungan belajar yang lebih unggul dibandingkan dengan kelas tradisional serta memberikan pengalaman-pengalaman belajar yang lebi banyak dan audien yang lebih beragam. Untuk membuat pembelajaran yang sukses dan kreatif membutuhkan dimensi baru dalam berpikir dan kreativitas. Instruktur harus memikirkan kembali peran mereka sebagai guru, dan menciptakan lingkungan yang berpusat pada siswa.


(17).  Mehmet, Acikalin.  Erdinc, Duru. (2005). The Use Of Computer Technologies In The Social Studies Classroom. The Turkish Online Journal of Educational Technology – TOJET. 4 (2), 18-25. ISSN: 1303-6521.

Nowadays, the use of technology in education has become more popular. Special attention has been given to the adaptation of computer technology into teaching-learning process for effective learning and increasing students’ achievement. In recent years, it has been realized that there is an immense benefit in applying computer technology in the social studies classroom. The first purpose of this study is to review computer - and Internet-supported instructional strategies in the social studies classroom. The second purpose of the study is to investigate the degree of application of these strategiesin the social studies classroom. Thus, based on the literature review, the results of the research regarding computer technology in the social studies classroom are summarized, and educational implications are discussed. Therefore, many social studies software/CD-ROM programs now available to support teaching strategies in the social studies classroom. As Berson (1996) asserts, one of the major purposes of social studies is to promote effective citizens who posses the critical thinking and decision making skills to function in a democratic society. Thus, reflective inquiry, problem solving and decision making skills are considered essential for the contemporary social studies education. Research shows that computer- and Internet-supported teaching strategies have crucial roles in facilitating the development of students’ critical thinking, problem solving and decision making skills

Komentar                                                                       
Penggunaan teknologi dalam pendidikan telah menjadi lebih populer. Perhatian khusus diberikan untuk adaptasi teknologi komputer dalam proses belajar mengajar yang efektif untuk meningkatkan pencapaian belajar siswa. Dalam beberapa tahun terakhir, penerapan teknologi komputer di kelas studi social menunjukkan hasil yang memuaskan. Adapun tujuan penelitian dalam artikel ini yaitu untuk meninjau strategi pembelajaran yang didukung komputer - dan Internet pada kelas studi social, selain itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki tingkat penerapan strategi kelas studi sosial. Banyak software/CD-ROM program untuk kelas studi sosial yang bertujuan ntuk mendorong agar siswa berpikir kritis dan terampil dalam mengambil keputusan yang penting dalam pendidikan ilmu sosial. Penelitian ini menggambarkan pentingnya strategi pembelajaran yang didukung oleh komputer-internet dalam mengembangkan berpikir kritis, pemecahan masalah, dan keahlian dalam membuat keputusan oleh siswa.


 (18). Hagen, J., Albrechtsen, E., Johnsen, S.O. (2011). The long-term effects of information security e-learning on organizational learning. Information Management & Computer Security; 2011, Vol. 19 Issue 3, p140-154, 15p. ISSN:09685227.

Purpose – The purpose of this paper is to measure and discuss the long-term effects of an e-learning tool aiming at improving the information security knowledge, awareness, and behaviour of employees. Design/methodology/approach – The intervention study had two assessments of knowledge and attitudes among employees: one survey, one week before the intervention, and one survey eight months after the intervention. The population was divided into an intervention group and a control group, where the only separated the groups was participation in the intervention (i.e. the e-learning tool). Findings – The study documents that the effects of the intervention on security awareness and behavior partly remains more than half a year after the intervention, but that the detailed knowledge on information security issues diminished during the period. The study also discusses how such courseware can contribute to long-term organizational learning compared with human interventions such as action research. Both human resource management and internal promotion are necessary input in the process to successfully educate and train employees in information security. Research limitations/implications – One weakness of concern is the low response rate of 37 in the final analysis. Practical implications – The study can document that short-time effects of software supported information security awareness on employees' knowledge, behaviour, and awareness diminish over time. It is thus important to maintain and continually perform information security awareness. More interventions studies, following the same principles as presented in this paper, of other user-directed measures is needed, to test and document the effects of different measures. Originality/value – The paper is innovative in the area of information security research as it shows how an information security intervention can be measured.

            Komentar

Tujuan - Tujuan dari makalah ini adalah untuk mengukur dan mendiskusikan efek jangka panjang dari e-learning bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan keamanan informasi, kesadaran, dan perilaku karyawan. Desain / metodologi / pendekatan - Studi intervensi memiliki dua penilaian pengetahuan dan sikap antara karyawan: satu survei, satu minggu sebelum intervensi, dan satu survei delapan bulan setelah intervensi. Populasi dibagi menjadi kelompok intervensi dan kelompok kontrol, dimana hanya dipisahkan kelompok adalah partisipasi dalam intervensi (yaitu alat e-learning). Temuan - dokumen Studi ini bahwa efek dari intervensi pada kesadaran keamanan dan perilaku sebagian tetap lebih dari setengah tahun setelah intervensi, tetapi pengetahuan rinci tentang isu-isu keamanan informasi berkurang selama periode tersebut. Penelitian ini juga membahas bagaimana Courseware tersebut dapat memberikan kontribusi untuk pembelajaran jangka panjang organisasi dibandingkan dengan intervensi manusia seperti penelitian tindakan. Baik manajemen sumber daya manusia dan promosi internal masukan yang diperlukan dalam proses untuk berhasil mendidik dan melatih karyawan dalam keamanan informasi.





(19).    Hansen, F.B., Resnick, Hy., Galea, J., (2002). Better Listening: Paraphrasing and Perception Checking- A Study of the Effectiveness of a Multimedia Skills Training Program. Journal of Technology in Human Services; 2002, Vol. 20 Issue 3/4, p317. ISSN: 15228835

The authors describe a multimedia communications skills training CD-ROM for human service students and practitioners and evaluate its effectiveness with undergraduate social work students in Canada.

            Komentar

Para penulis menggambarkan pelatihan keterampilan komunikasi multimedia CD-ROM untuk mahasiswa dan praktisi pelayanan manusia dan mengevaluasi efektifitas dengan sarjana mahasiswa sosial di Kanada.


(20).    Abdelraheem, A.Y, Abdelraheem, A.H. (2005).Utilisation and Benefits of Instructional Media in Teaching Social Studies Courses as Perceived by Omani Students. Malaysian Online Journal of Instructional Technology. 2 (1).  ISS, 1-8 ISSN: 1823-1144.

The article reports on a study that elucidated the extent of the utilisation and benefits of instructional media as perceived by Omani students. A questionnaire consisting of a list of the commonly available media at schools was deployed. Copies of the questionnaire were distributed to a sample of 970 students drawn randomly from the Muscat area in Oman. The results showed that boards, maps, tables, illustrations and graphs were the most frequent media usedin the teaching of social studies courses as perceived by the students. In terms of the benefits, the results showed that the boards, maps, tables and illustrations were the most useful media. The results also revealed that there was no significant difference between the perceptions of female and male students regarding the utilisation of media. However, more female students noted that the benefits they rendered were higher. A comparative analysis between the course levels revealed that the students’ perception of the utilisation and benefits of various media in the preparatory course level was higher than that of secondary course levels. The discussion of the results, in particular pertaining to the provision of the media usage for their benefit in teaching and learning for the Omani students will be discussed and
highlighted.

Komentar                                                                       
Artikel ini melaporkan penelitian mengenai pemanfaatan dan keuntungan media pembelajaran siswa Omani. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan antara persepsi siswa perempuan dan laki-laki tentang pemanfaatan media. Namun, banyak siswa perempuan yang mencatat bahwa manfaat yang mereka dapatkan lebih tinggi. Sebuah analisis perbandingan antara tingkat kursus yang mengungkapkan bahwa persepsi siswa tentang pemanfaatan dan manfaat dari berbagai media di tingkat persiapan pembelajaran lebih tinggi daripada tingkat pembelajaran yang sekunder.

(21).     Bookhagen, A.D., Wegenast, D.P., McCowan, R.J., (2002). Multimedia Interactive Training Development- Journey: Discovering Social Services CD-ROM.
Journal of Technology in Human Services; 2002, Vol. 20 Issue 3/4, p333. ISSN:15228835.

            This article describes a multimedia 9-module training program which uses text, graphics, animation, narration, and video as well as a planned approach to the use of color, pace, tone, setting, and instructional activities to achieve its goal of orienting new workers to the complexity of a public social service agency.

Komentar
Artikel ini menjelaskan program 9-modul pelatihan multimedia yang menggunakan teks, grafik, animasi, narasi, dan video serta pendekatan direncanakan untuk penggunaan warna, kecepatan, pengaturan nada, dan kegiatan instruksional untuk mencapai tujuan dalam orientasi pekerja baru untuk kompleksitas sebuah lembaga pelayanan publik sosial.


(22).  Whitworth, S., & Berson, M.J. (2003). Computer technology in the social studies: An examination of the effectiveness literature (1996-2001). Contemporary Issues in Technology and Teacher Education, 2(4), 472-509.

Within the social studies, technology has served a dual role as an important instructional tool that may have a significant effect on the global, political, social, and economic functioning of American society. As both a method of instruction and a topic of instruction, the impact of computers and technology on social studies is immense. However, the extent to which this potential is being fully realized in the social studies classroom has not been sufficiently explored. Technology-based learning has the potential to facilitate development of students’ decision-making and problem solving skills, data processing skills, and communication capabilities. Through the computer, students may gain access to expansive knowledge links and broaden their exposure to diverse people and perspectives; hence, affording students the opportunity to become active participants in an increasingly global and interactive world. The technological shift in society has occurred very rapidly, and the field of education is attempting to keep up the pace. Recent advances now allow computer technology to serve many more functions for the social studies classroom than merely accessing information through the Internet (Berson,1996; Diem 2000; Mason et al., 2000). For educators to fully take advantage of the technology available, the technology must be infused more into daily instruction and not used as a mere appendage during one or two lessons (Berson, 1996). Yet, articles continually appear that merely list a wealth of Internet sites with little guidance on how the busy teacher can incorporate these resources into a lesson or project. Typically, educators rely on inservice trainings, state and national conferences, and educational newsletters and/or journals to receive updates on the latest uses of technology in the social studies classrooms. In an effort to determine just how far the fieldhas come and to assess the trends and patterns of use of technology in the social studies over the past five years, this article will (a) examine the general trends in the National Council for Social Studies (NCSS) publications and over 300 other articles, chapters, books, and government reports, and (b) present the results from content analysis data of selected technology related articles from 1996-2001.

Komentar
Teknologi memiliki peran ganda sebagai alat pembelajaran penting yang memberikan pengaruh yang signifikan dalam bidang sosial, politik, dan ekonomi masyarakat Amerika. Pembelajaran berbasis teknologi memiliki potensi dalam memfasilitasi pembuatan keputusan siswa dan keterampilan pemecahan masalah, keterampilan memproses data, dan kemampuan berkomunikasi. Akhir-akhir ini teknologi komputer memberikan banyak manfaat bagi kelas pembelajaran sosial dibandingkan mengakses informasi melalui internet. Para pendidik harus memanfaatkan teknologi dalam proses pembelajaran dan tidak hanya menggunakan teknologi pada satu atau dua mata pelajaran.

(23). Horton, L., Liu, M., Brockmann, D., Chang, H., Gibbs, I., Lee, S.T. & Traphagan, T. (2006). Designing Interactive Multimedia to Promote Cultural Awareness Among Middle School Social Studies Students. In E. Pearson & P. Bohman (Eds.), Proceedings of World Conference on Educational Multimedia, Hypermedia and Telecommunications 2006 (pp. 2829-2834). Chesapeake, VA: AACE.

This presentation describes the development of an interactive multimedia learning environment called Not Just Sushi to support inquiry-based learning in sixth grade Social Studies classrooms. The goals of the project are to enhance appreciation and understanding of Japanese culture through an exploration of Japanese food. The project was developed by a team of six graduate Instructional Technology students at The University of Texas at Austin who were engaged in a course that situates learning amid real-world design projects. The project team was responsible for each phase of the development cycle, including planning and instructional design, design and development, user testing, and implementation. The development process exposed the project team to the challenges of designing interactive multimedia for instructional purposes, and specifically to the idiosyncrasies of designing Social Studies instruction. Having completed the project and field testing, the project team has identified opportunities to further extend and enhance the project in subsequent iterations.

Komentar
Presentasi ini menggambarkan perkembangan pembelajaran multimedia interaktif  dalam lingkungan yang disebut Not Just Sushi untuk mendukung pembelajaran berbasis inkuiri pada kelas pembelajaran sosial kelas 6. Proyek yang dikembangkan oleh tim siswa pembelajaran teknologi semester 6 pada Universitas Texas yang dikaitkan pada pengajaran yang situasi pembelajarnnya diantara rancangan proyek dan dunia nyata. Perkembangan proses mengarahkan tim proyek pada rancangan multimedia interaktif untuk tujuan pembelajaran, khususnya istimewa untuk rancangan pengajaran pada pembelajaran sosial.